article

Quantum Learning, Melejitkan Prestasi Belajar

Oleh : Guruvalah

Metode pengajaran di sekolah atau Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) masih banyak yang kurang menekankan pada kegiatan belajar sebagai proses. Metode pengajaran masih sering disajikan dalam bentuk pemberian informasi, kurang didukung dengan penggunaan media dan sumber lainnya.

Kondisi ini yang mendorong Arni Arief Lamaka dan Chaerrun Nisa untuk melakukan penelitian terhadap metode Quantum Learning dalam pengajaran. Kedua siswi SMUN 5 Makassar ini meneliti keefektifan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di LBB Gama College, Makassar. Tidak sia‑sia Arni dan Nisa melakukan penelitian itu. Karya mereka dinyatakan sebagai pemenang pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Republika, 7/10/2002)

Quantum Learning, dalam pandangan kedua siswi ini, adalah seperangkat metode dan falsafah belajar untuk semua umur. Ini mencakup aspek‑aspek penting dalam program Neuralinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Quantum Learning, dapat pula didefinisikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Quantum Learning adalah gabungan yang sangat seimbang antara bekerja dan bermain, antara rangsangan internal dan eksternal,” urainya.

Penelitian dilakukan terhadap siswa dari berbagai sekolah di Makassar yang belajar di lembaga ini. Pengambilan sampel dilakukan secara acak ( random sampling). Jumlah populasi sebanyak 140 orang, sampel diambil 30 persen atau 30 orang.Teknik analisis yang digunakan adalah perbandingan mean (rata‑rata). Dengan teknik ini, kata kedua siswi itu, memungkinkan penelitian untuk membandingkan mean siswa yang meningkat prestasinya atau menurun prestasinya dengan metode Quantum Learning. Hasil penelitian dibagi dalam dua bagian: kuantitatif dan kualitatif. Hasil kuantitatif adalah gambaran tentang keefektifan penggunaan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar yang dinyatakan dalam angka. Hasil kualitatif adalah rumusan hasil penelitian dalam bentuk pernyataan sebagai penguji hipotesis, yaitu apakah metode Quantum Learning efektif digunakan sebagai metode dalan meningkatkan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang menjadi objek penelitian dapat meraih keberhasilan atau meningkat prestasinya. Itu karena lembaga ini melibatkan banyak unsur dalam proses belajar mengajar seperti penataan ruangan yang nyaman, penyajian musik pada saat proses  Belajar mengajar berlangsung. Ada komunikasi yang baik dan penggunaan audio visual. Yang paling utama, menurut kedua siswi ini, ialah belajar dengan durasi waktu yang relatif singkat karena menerapkan metode pengajaran serta penyajian materi yang variatik dan inovatik. “Inilah yang disebut seperangkat metode, yaitu Quantum Learning,” jelasnya.

Dari serangkaian penelitian tersebut, Arni dan Nisa menyimpulkan bahwa penerapan metode Quantum Learning efektif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. Kedua siswi ini juga menyimpulkan, sebagian besar siswa di LBB Gama College menanggapi metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan

Konsep Quantum Learning

Quantum Learning merupakan metoda pengajaran maupun pelatihan yang  menggunakan metodologi berdasarkan teori‑teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Programming atau NLP (Grinder & Bandler), Experential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson & Johnson) dan Elements of Effective Instruction (Hunter) menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar. Percepatan belajar (accelerated learning) dikembangkan untuk menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, modalitas belajar serta keterlibatan aktif dari peserta.

Konsep kunci dalarn Quantum Learning dari berbagai teori dan strategi belajar yang digunakan antara lain:

a. Teori otak kanan kiri

b. Teori otak triune (3 in 1)

c. Pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik)

d. Teori kecerdasan ganda

e. Pendidikan holistic (menyeluruh)

f.  Belajar berdasarkan pengalaman

g. Belajar dengan simbol (metaphoric learning)

h. Simulasi / permainan

i.  Peta Pikiran (mind mapping)

Paradigma Belajar Model Quantum Learning

Dalam belajar model Quantum Learning agar dapat berjalan dengan benar ini paradigma yang harus dianut oleh siswa dan guru adalah sebagai berikut :

a.  Setiap orang  adalah  guru  dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator

b.  Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relak.

c.  Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.

  1. Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.

e.  Dalam menyerap dan mengolah informasi otak menguraikan dalam bentuk simbol atau asosiatip sehingga materi akan lebih mudah dicerna bila lebih banyak disajikan dalarn bentuk gambar, diagram, flow atau simbol.

  1. Kunci menuju kesuksesan model quantum learning adalah latar belakang (background) musik klasik atau instrumental yang telah terbukti memberikan pengaruh positip dalarn proses pembelajaran. Musik klasik dari Mozart, bach, Bethoven, dan Vivaldi dapat meningkatkan kemampuan mengingat, mengurangi stress, meredakan ketegangan, meingkatkan energi dan membesarkan daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas (Jeannete Vos)

g.  Penggunaan Warna dalam model quantum learning dapat meningkatkan daya tangkap dan ingat sebanyak 78%

  1. Metoda peran dimana peserta berperan lebih aktif dalam membahas materi sesuai dengan pengalamannya melalui pendekatan terbalik yaitu membuat belajar serupa bekerja (pembelajaran orang dewasa)
  1. Sistim penilaian yang disarankan untuk abad 21 dalam pembelajaran adalah 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian trainer atau atasan (Jeannette Vos)
  1. Umpan balik yang positif akan mampu memotivasi anak untuk berprestasi namun umpan balik negative akan membuat anak menjadi frustasi. Ini berdasar hasil riset pakar masalah kepercayaan diri, Jack Carfiled pada tahun 1982. 100 anak ditunjuk oleh periset selam sehari. Hasilnya, bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negative dan hanya 75 komentar positif.

Untuk meningkatkan percepatan belajar dan efisiensi waktu dan melejitkan prestasi belajar tidak ada salahnya di lembaga-lembaga pendidikan perlu mengembangkan metode belajar dengan konsep Quantum Learning. Apakah Anda para guru/instruktur tertarik untuk mencobanya?.

Artikel:

CTL YANG CENTIL KITA SENTIL

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian KURIKULUM / CURRICULUM.

Nama & E-mail (Penulis): Deny Suwarja

Saya Guru di SLTPN 1 CIBATU GARUT

Tanggal: 7 NOVEMBER 2003

Judul Artikel: CTL YANG CENTIL KITA SENTIL

Topik: ctl

Perbincangan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan topik pembicaraan hangat di kalangan pendidik. Sehangat kita menghirup kopi di pagi hari. Enak diminum, harum aromanya tapi tetap berwarna hitam, penuh misteri untuk kita selidiki. Strategi pembelajaran yang diberlakukan di kelas 1 semester gasal pada tahun ajaran 2003/2004 ini, membuat bingung, mengagetkan dan menyita perhatian para guru.

Pemerintah memberlakukan KBK dengan strategi CTL dilandasi kenyataan bahwa guru kurang memiliki kompetensi, kurang profesional, dan tidak memenuhi kriteria sebagai guru sehingga kualitas pendidikan negeri ini makin terpuruk. Dengan diberlakukannya CTL, terbersit dalam sanubari seberkas harapan untuk terjadinya peningkatan mutu pendidikan di tanah air pada masa yang akan datang. CTL diberlakukan setelah dianalisis secara mendalam oleh pakar terkait, baik dari Pusat Kurikulum, Pusat Pengujian, Perguruan Tinggi dan Guru Sekolah.

Sangat disayangkan, pada pemberlakukan CTL ini sepertinya pemerintah melakukan kesalahan yang sama seperti pada pemberlakuan CBSA yang lalu. Kita tengok masa lalu, Prof Dr Connie Semiawan sebagai Ketua Pusat Kurikulum, mempromosikan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) setelah proyek ujicobanya di SD-SD Cianjur berhasil dengan baik. Aspek-aspek kognitif, psikomotorik dan afektif – bahkan emotif dengan strategi CBSA- terjalin rapih. Siswa “menemukan sendiri” pengetahuannya, apa yang ingin mereka pahami. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang sesekali melontarkan pertanyaan yang sekaligus menggelitik mengarahkan dan menggairahkan untuk dijawab siswa.

Program CBSA pun kemudian diterapkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Para penerbit buku pelajaran pun “panen” dengan menerbitkan berbagai macam buku menawarkan isi tentang CBSA. Guru-guru dan Kepala Sekolah pun diberi pelatihan tentang CBSA tersebut. Namun, apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan yang kita harapkan, jauh panggang dari api. CBSA yang seharusnya Cara Belajar Siswa Aktif seringkali berubah menjadi “Cul Budak Sina Anteng”, atau menjadi “Catat Buku Sampai Abis”. CBSA akhirnya justru melemahkan semangat belajar siswa, mereka melihat dan merasakan Bapak dan Ibu gurunya menjadi malas mengajar dan hanya memberi catatan dan tugas-tugas.

Ketidakberhasilan CBSA patut diselidiki dan kita waspadai jangan sampai terjadi pada CTL. Penulis menganalogikan CTL sebagai gadis cantik yang centil yang harus disentil dari awal karena bila tidak, nasibnya akan sama dengan CBSA, rest in peace. Sentilan ini terdiri dari beberapa hal yaitu: faktor tidak adanya kesiapan; guru, modelling, pelibatan siswa, lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa) serta tersedianya dana pendidikan yang memadai. Bila pemerintah tidak cepat melibatkan kelima faktor tersebut bukan tidak mungkin CTL juga nantinya akan senasib dengan CBSA yang kini tinggal kenangan. Seperti iklan otomotif di televisi, nyaris tak terdengar.

Pemberlakukan CTL sepertinya tidak menyentuh persoalan dasar para guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan, sehingga belum tentu akan mengangkat citra dan kualitas pendidikan. Para guru hanya digiring dan dicekoki pada bagaimana menyiapkan dan mengerjakan administrasi kegiatan belajar-mengajar (KBM) atau silabus yang baik dan lengkap. Guru tidak diberikan wawasan atau pengalaman untuk memahami dan mengerti apa, bagaimana dan seperti apa CTL itu harus dilakukan di dalam kelas. Akibatnya, strategi CTL yang seharusnya sudah dilaksanakan di kelas 1 awal semester ini belum juga dilaksanakan. Guru masih belum mengerti 4WH (What, Why, Where, Who, dan How)-nya CTL. Akibatnya proses pembelajaran tetap diberlakukan dengan sistem klasikal. Ceramah. Guru beraksi dan berakting di depan kelas, murid menonton dan mendengarkan.

Pemberdayaan guru sangat penting dalam upaya mencapai pembelajaran CTL yang sesungguhnya. Guru bukan disuapi dengan teks dan konsep CTL. Diknas seharusnya memberikan contoh langsung, model guru CTL itu seperti apa. Sosok yang telah mampu melakukan CTL dengan baik, benar dan sesuai dengan konsep CTL yang sesungguhnya. Saya meyakini sampai hari ini belum ada seorang guru pun yang benar-benar memahami bagaimana seharusnya guru melakukan pembelajaran dengan CTL. Visualisasi strategi pembelajaran CTL dapat disosialisasikan dalam bentuk VCD, seperti yang dicontohkan oleh Bobby de Porter dengan Quantum Learning dan Quantum Teaching- nya. Jadi filmnya tidak kaku atau dibuat-buat. Tapi alami dan wajar. Sayangnya justeru kekhawatiran tersebut telah terjadi pada VCD CTL yang dibagikan ke sekolah-sekolah beberapa waktu lalu.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah pelatihan semacam workshop pendalaman CTL terhadap para guru. Dengan pelatihan tersebut guru akan belajar mengenai 4WH-nya CTL dan melakukannya di dalam kelas dengan penuh tanggung jawab. Pemberdayaan guru merupakan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan CTL. Jika guru tidak memiliki keterampilan untuk mengubah paradigma pola mengajar sekaligus tidak bisa mengelola kelas dengan baik, ilmu seluas langitpun yang ada di kepalanya tidak bisa ditransfer dengan baik kepada siswa didiknya. Pelatihan bukan dalam bentuk ceramah, tapi dalam bentuk semiloka, diskusi serta brainstorming.

Dalam pelaksanaannya, CTL seharusnya disosialisasikan dan dikontekskan agar difahami dan dialami langsung oleh para siswa. Siswa akan merasakan kesenangan, kehangatan dan kesukaan dalam pembelajaran bila guru mampu mengkontekskan CTL. Guru dan siswa bukan “lahan eksperimen” para pemegang kebijakan bidang pendidikan semata, tetapi harus menjadi subjek eksperimen itu. Seperti diutarakan di atas bahwa CTL diberlakukan setelah dianalisis secara mendalam oleh pakar terkait, baik dari Pusat Kurikulum, Pusat Pengujian, Perguruan Tinggi dan Guru Sekolah. Tapi apakah analisis tersebut telah menyentuh jiwa siswa sebagai pembelajar? Bukankah sudah saatnya kita melihat siswa sebagai subjek didik, bukan sebaliknya? Pemberlakuan dan pelaksanaan CTL selayaknya juga melibatkan kesiapan dan kesigapan siswa sebagai pembelajar yang sesungguhnya. Sehingga bila CTL dilaksanakan oleh gurunya, siswa tidak kaget dan terjebak kembali kepada paradigma; gurunya malas karena hanya memberikan tugas dan catatan.

Faktor keempat kemungkinan kegagalan strategi CTL dalam sistem pendidikan kita adalah lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa). Padahal abad 21 adalah era informasi yang membutuhkan keterampilan membaca dan menulis yang mumpuni. Manusia yang tidak mempunyai kemauan, kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis akan jauh tertinggal, terseok-seok tertinggal zaman. Para guru dan siswa di negeri ini semestinya meniru Jepang, negeri yang luluh lantak pasca tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Negeri matahari terbit ini dapat bangkit dan menjadi negara yang sangat maju karena kegilaan membaca rakyatnya yang sangat mengagumkan. Di stasiun kereta api, di taman, bahkan di dalam kereta yang penuh sesak, dalam keadaan berdiri orang Jepang asyik membaca buku.

P. David Pearson dari Michigan State University (2003) menyatakan , “Reading comprehension is thought of as the product of decoding and listening comprehension (RC = Dec * LC), and the major task of instruction is to ensure that students master the code so that comprehension can proceed more or less by listening to what you read”. Keterampilan membaca adalah pemikiran sebagai produk memecahkan kode dan mendengarkan pengertian ( RC= Dec* LC), dan tujuan instruksi utamanya adalah untuk memastikan bahwa para siswa menguasai kode sedemikian sehingga pengertian dapat berproses kurang lebih dengan mendengarkan apa yang kamu baca. Guru dan siswa harus melatih skill mereka dalam “mendengarkan” dan mengikat isi buku. Atau dengan bahasa yang lain guru dan siswa harus layak membaca buku dan menuliskan sesuatu, harus mempunyai kemampuan mengikat makna (Hernowo, Kaifa, 2001).

Sayangnya kelayakan untuk dapat mengikat makna dengan cara membaca dan menuliskan sesuatu tersebut harus dibayar mahal. Banyak sekali dari rakyat di negeri ini yang tergila-gila membaca buku, harus terbentur pada harga buku yang selangit. Mahal. Sedikit sekali orang yang mampu membeli buku yang bermutu karena tidak terjangkau isi saku. Pengadaan buku paket selayaknya dibarengi dengan pengadaan buku-buku populer dan buku “How to” yang membahas kemajuan dan perkembangan pendidikan. Sehingga kalaupun tidak terbeli, guru dan siswa dapat bersama-sama membaca di perpustakaan sekolah.

Kendala tercapainya peningkatan kualitas pendidikan dengan CTL ini pada akhirnya bermuara pada ketersediaan dana pendidikan yang memadai. Rencana pemerintah mengucurkan dana senilai Rp.20.000.000,00 (?) belum juga terealisasi. Padahal CTL telah berjalan lebih kurang tiga bulan. Masih untung bila guru yang “mencoba” melakukan strategi CTL itu melakukan swadaya dan memberdayakan dana dari siswa. Itu mungkin masih ditolerir bila pembiayaan untuk pembelajaran sedikit. Tapi bagaimana bila membutuhkan dana yang besar?

Kalaupun dana itu jadi turun, dana tersebut harus sesuai dengan peruntukannya. Dimanfaatkan seefisien dan seoptimal mungkin murni untuk pelaksanaan CTL. Kepala Sekolah harus mampu mengawasi dan melakukan kontrol dengan tegas. Karena bila tidak, bukan tidak mungkin akan terjadi akal-akalan dari guru yang nakal. Meminta dana CTL dengan melakukan mark-up terlebih dahulu demi keuntungan pribadi. Agar pengontrolan berjalan transparan, buatlah papan laporan keuangan CTL. Tempelkan di tempat yang dapat dilihat dan dimonitor oleh seluruh komponen sekolah atau masyarakat luas. Saya yakin, hal ini bukan sesuatu yang berat bila kita melakukan pekerjaan dengan menjujung tinggi kejujuran.

Sebaik apapun kurikulum pendidikan, bila kelima faktor tersebut tidak berhasil dipecahkan oleh diknas, jangan harap CTL dapat mencapai tujuannya. Mutu pendidikan tidak akan berubah, jika faktor; kesiapan guru, modelling, pelibatan para penggiat pembelajaran (siswa), lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa) serta tidak tersedianya dana pendidikan yang memadai tidak dapat dimunculkan, maka pendidikan bermutu tinggi hanyalah bintang di awang-awang. Kerlap-kerlip membinarkan harapan, enak dipandang tapi tak bisa disentuh. Pendidikan hanya akan berupa sandiwara antara guru dan siswa didik semata.

*Penulis adalah guru di Pesantren Keresek Cibatu Garut

Information About Strategic Teaching, Strategic Learning, and Thinking Skills

Dr. Bob Kizlik

Updated June 29, 2007

Effectiveness in anything, including teaching, can be an elusive quality to describe and to measure. The following is about some fundamental principles that may lead to actual improvement of instruction. Please read on.

In order to use any instructional technique effectively, anyone who teaches must, of necessity, understand the fundamental principles and assumptions upon which the specific technique is based. There is certainly no shortage of descriptions or labels for activities that may be classified as pertaining to instruction. From the ever-popular lecture method to complex student-teacher, student-student interactions, instruction encompasses a broad range of teacher behaviors. At one end (the lecture method) the teacher is an imparter of information, and the students are the intended recipients of the information the teacher imparts. At the other end of the range of teacher behaviors are methods in which teachers interact with students in vastly more complex ways. Most researchers and experts in the field are in agreement that the most permanent and meaningful learning takes place at this end of the range. Strategic teaching, and, concomitantly, strategic learning are techniques in which significant student-teacher interaction and resultant learning and thinking are at the high end of the scale. If you have comments, ideas, or suggestions, please let me know.

To learn strategic teaching techniques, and to foster the ability of students to engage in strategic learning, it is important to define some terms. In fact, one of the principles of strategic teaching is to define terms. Below are terms that are relevant to this process.

Strategic teaching describes instructional processes that focus directly on fostering student thinking, but goes well beyond that. Strategic teaching and strategic learning are inexorably linked. A strategic teacher has an understanding of the variables of instruction and is aware of the cognitive requirements of learning. In such an awareness, comes a sense of timing and a style of management. The strategic teacher is one who:

1. is a thinker and decision maker;

2. possesses a rich knowledge base;

3. is a modeler and a mediator of instruction.

Variables of instruction refer to those factors that strategic teachers consider in order to develop instruction. These variables, as the name implies, change, and therefore the teacher must be aware of the nature of change as well as the actual variables themselves. These variables are:

1. characteristics of the learner;

2. material to be learned (curriculum content);

3. the criterial task (the goals and outcomes the teacher and learner designate);

4. learning strategies (goal directed activities in which learners engage).

In teaching content at the elementary, middle, or secondary level, the strategic teacher helps guide instruction by focusing on learning strategies that foster thinking skills in relation to the content. In connecting new information to what a student already knows, learning becomes more meaningful, and not simply retained for test-taking purposes. There are numerous strategies that teachers can develop that accomplish this purpose. To give one information is not difficult, but to help one be able to develop the tools to both know what information is relevant and the means to acquire it, is perhaps the most important function of any social studies teacher. There are numerous techniques for engaging students in thinking about content.

Besides thinking skills, there are such practical matters as how best to present a lesson on weather, teaching map and globe skills, helping students work together in groups, how to question effectively, and how to answer student questions. The first and foremost criterion is that the teacher thoroughly know the content, the second criterion is that the teacher have a set of rules for classroom management that are understood and implemented, and the third criterion is that the teacher have the resourcefulness and knowledge to rehearse unfamiliar techniques, and more importantly, have the capacity to adjust any lesson plan to maintain academic focus. Many of these tasks are learned on-the-job. Nothing you can learn in any course is more valuable than learning what to do when you don’t know what to do. When you can do that, you are well on your way to becoming a great teacher.

Strategic Learning

Strategic learning is, in effect, a highly probable outcome of effective strategic teaching. Reduced to its essentials, strategic learning is learning in which students construct their own meanings, and in the process, become aware of their own thinking. The link between teaching, thinking, and learning is critical. As a teacher, if you are not causing your students to think about what you are presenting, discussing, demonstrating, mediating, guiding, or directing, then you are not doing an effective job. You must be more than a dispenser of information. You must create conditions and an environment that encourages thinking, deepens and broadens it, and which causes students to become aware of how they think. The process of thinking about how we think is referred to as metacognition. In helping students create knowledge, it is useful to think of knowledge as occupying space that can be thought of as a pyramid. At the bottom of the pyramid is declarative knowledge, or knowledge of “what is.” Declarative knowledge is akin to awareness. One step up on the pyramid is procedural knowledge, or knowledge of “how something works, or functions.” At the top of the pyramid is conditional knowledge, or knowledge of “when or why” a particular procedure will work. Conditional knowledge is closely related to the predictive function of knowledge. When students develop a broad and deep system of conditional knowledge, they are able to predict more accurately, solve problems more efficiently, and in a sense, are more free because they can identify and articulate more options from which to choose. Strategic learning is a valuable system to help your students develop conditional knowledge.

Content Connections

The creation of knowledge is, in the most practical and profound sense, a primary and direct result of learning. As teachers, we must strive to assist our students to develop intellectual tools by which they can create knowledge. Any knowledge, once created, becomes a part of a larger system that enhances learning and is capable of integrating and accommodating new information with greater efficiency and reliability. Each person creates knowledge in similar, yet uniquely distinct ways. Connecting information provided or described by others in novel and personal ways is a key to learning and developing knowledge. The more one “knows,” the more one can know. The idea of content links or connections is not exactly new, but offers some unique opportunities to chart your own course, learn, and add to your knowledge system.  Enter the idea of Constructivism. Constructivism is a philosophy as well as a psychology of education. Constructivism is about how knowledge is created. I recommend that you go to a paper developed by Erik Strommen and Bruce Lincoln and published by Columbia University to learn more about this important and useful idea. It will give you some perspective that will help you construct your own knowledge about strategic teaching and learning. Click here for the paper.

Here is another link to a massive list of links and information about Constructivism, from Rousseau to Vygotsky.

Thematic curriculum is about relating content for specific intended learning purposes. Relevant instructional variations and different concepts of thematic curriculum abound in education literature. A classroom that incorporates thematic principles in engaged in content links. Thematic units provide an organizing structure. Caine and Caine provide an excellent description of the power of a thematic unit:

Teachers can begin by designing a thematic unit. Thematic units engage emotions, social relationships, and complex cognitive processing through intellectual challenge. [Italics mine]. Look at the curriculum guide and organize what is to be taught by finding an object, picture, or work of art that represents the subject matter on a broad level. If the subject is history and you are studying the Industrial Revolution, for example, begin by finding a provocative painting about this time in history. Imagine what it was like to live then and intrigue students with the reality of these times. Perhaps you begin by reading a brief story, or telling one. How would their (the students’) lives be different if they were living at that time? How did democracy help people in the Industrial Revolution? Find a story about a union boss, and have students rewrite it as a brief play. Find a poignant part of a poem or story and read it to music. Engage students’ imaginations and understanding and allow them to reconstruct this time period through group and individual projects., demonstrations, drama, and collections of art and music, which say more than a textbook can ever say. What you will find is that students will be thinking and talking about the Industrial Revolution not only in class but at lunch and at home. You will also find that your students will be teaching you (Cain & Cain, 1994. p. 192).

The saying “Give a man a fish, and he is fed for a day. Teach a man how to fish, and he is fed for a lifetime,” is at the heart of the thinking about strategic teaching and learning. As a teacher, you must learn “how to fish,” and so must your students.

The following references are excellent resources to help you do this.

Baron, J.B. and Sternberg, R.J. 1987. Teaching Thinking Skills: Theory and Practice. New York: W.H. Freeman.

Caine. R.N. and Caine, G. 1994. Making Connections: Teaching and the Human Brain. Menlo Park, California: Addison Wesley/Innovative Learning Publications.

Jones, B.F., et. al., Eds. 1987. Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Laughlin, M.A., and Hartoonian, H.M. 1995. Challenges of Social Studies Instruction in Middle and High Schools. Fort Worth: Harcourt Brace & Company. (Chapter 11).

If you have the capability, there are many excellent resources available on the Internet. Keywords to search include thinking skills, cognition, curriculum, teaching, and lesson plans. Search for information, think about what you find, learn, and create something new for yourself — KNOWLEDGE!

Be sure to visit the ADPRIMA Instruction System page by clicking here.

“Anything not understood in more than one way is not understood at all.”

Okay, now for something to read that might give you a chill or two…. click here for my novel, What Waits Within

Online Education for Teachers – Advance Your Career

I would like to thank all who order Lesson Planning: From Writing Objectives to Selecting Instructional Programs, as well as books, music, electronics, DVDs, software, and household items  from AMAZON.COM through ADPRIMA. By doing so, you help support the operation and maintenance of this site.

Bob Kizlik

www.geocities.com/guruvalah/penelitian3.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s