Hilangnya Layanan Bimbingan Konseling Dalam Kurikulum 2013

Image

 

Itsar Bolo Rangka, M.Pd., Kons., Sulawesi tenggara, 3 Dec 2012

Perubahan kurikulum sebagai upaya perbaikan kualitas pendidikan yang memiliki relevansi dengan perubahan zaman yang cepat merupakan hal yang wajar agar generasi muda kita lebih kompetitif.
Namun dalam draft sosialisasi kurikulum 2013 ada masukan utama yaitu mohon sekiranya diperjelas posisi bidang kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) di dalam kurikulum 2013 sebab dalam beberapa slide yang saya jumpai bahwa tidak ada komponen yang menyebutkan istilah bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada tiap-tiap satuan pendidikan dasar-menengah. Beberapa keganjilan terjadi, apabila tujuan perubahan kurikulum 2013 untuk menciptakan keseimbangan antara domain kognisi, afeksi dan psikomotor hanya melalui mata pelajaran tanpa diimbangi dengan pendampingan secara psikologis melalui pelayanan BK, maka niscaya semua akan sia-sia. Kita hanya menciptakan para generasi yang cerdas secara intelektual saja, namun miskin perasaan empati, moral dan tangguh upaya menyelesaikan masalah yang ada di dalam kehidupan yang lebih luas. Saya hanya berharap perumusan kurikulum tidak menghilangkan substansi dari standar isi pendidikan (Permendiknas No. 22/2006). Alih-alih memperbaiki kualitas pembelajaran namun yang terjadi bisa saja sebaliknya sebab ada beberapa elemen krusial yang dilebur menjadi satu kesatuan pada komponen tertentu, yang sebenarnya memiliki domain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Contohnya kegiatan pengembangan diri yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Hal ini sangat kontraproduktif menurut saya. Sebab pengembangan diri menurut standar isi pendidikan yang di dalamnya terbagi atas 2 komponen yaitu pelayanan konseling (BK) dan kegiatan ekstrakurikuler. Khusus untuk kegiatan pelayanan konseling (BK) kegiatannya dilaksanakan oleh guru BK/Konselor sekolah yang bertujuan menyediakan sarana bantuan melalui proses pelayanan konseling bagi peserta didik untuk mencapai bentuk kehidupan yang efektif sehari-hari, baik dalam upayanya menimba ilmu di satuan pendidikan atau menjalani kehidupan yang lebih luas. Tak pelak lagi proses untuk mencapai prestasi (akademik, dll) akan sangat terganggu jika siswa (utamanya di sekolah) kehidupan sehari-harinya mengalami masalah dan tidak ditangani secara serius oleh petugas yang berwenang (guru BK/konselor sekolah). Persoalannya adalah apabila kegiatan pengembangan diri (termasuk BK) diintegrasikan ke dalam mata pelajaran maka hal ini akan tidak efektif dijalankan di sekolah. Sebab pelayanan BK tidak dapat penangannya diberikan / diserahkan kepada guru mata pelajaran, sebab kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling oleh guru BK/konselor merupakan kegiatan yang khas dan unik, yang secara objek praktik spesifik penyajiannya berbeda dengan mata pelajaran yang disajikan oleh guru mata pelajaran. Fakta lain yang akan mengemuka yaitu apabila status kegiatan pengembangan diri (dalam hal ini pelayanan konseling) tidak ditegasakan posisinya dalam kurikulum 2013 itu yang membahayakan, sebab apabila stakeholder berbicara kurikulum maka bisa saja ia tergiring untuk memiliki pemahaman bahwa kegiatan pengembangan diri melalui pelayanan Bimbingan dan konseling tidak ada disitu. Padahal sesungguhnya tidak demikian adanya. Kegiatan pelayanan BK sama pentingnya dengan mata pelajaran/muatan lokal sehingga posisi dan peranannya perlu secara tegas diuraikan dalam kurikulum final 2013.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s