ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM BIMBINGAN KONSELING MATERI KULIAH ALIRAN – ALIRAN PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM PENDIDIKAN Drs. Psi. Suroso, MS. MAGISTER PSIKOLOGI PASCASARJANA UNTAG SURABAYA KATA PENGANTAR Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan bimbing-an dan kekuatan kepada penulis sehingga hand out/buku materi perkuliahan aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan ini dapat kami selesaikan. Sebe-narnya buku materi ini telah tersusun sejak lama, tetapi mengingat keterbatasan yang dimiliki penulis yang merasa masih selalu kurang, maka selalu tertunda untuk penye-lesaiannya. Meskipun demikian, akhirnya penulis berkeyakinan bahwa tidak ada sesu-atu yang sempurna, maka jadilah buku materi ini, meskipun tentunya masih jauh dari kata sempurna. Buku materi kuliah aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan ini ditulis berdasarkan keinginan ang kuat penulis untuk memberikan bantuan kepada para mahasiswa Psikologi Magister Psikologi pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengenai buku materi kuliah aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan yang dapat menjadi motivator untuk belajar sekaligus memancing minat baca. Apalagi belum banyak buku aliran-aliran psikologi yang bisa didapatkan dengan mudah. Hand out/buku materi kuliah aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan ini ditulis dengan menyajikan kawasan aliran-aliran psikologi dan bagai-mana penerapannya dalam pendidikan, pendekatan behavioristik, pendekatan psikoa-nalisis, pendekatan humanistik, dan pendekatan transpersonal, yang masing-masing bahasan akan dikaitkan dengan bagaimana penerapannya dalam pendidikan. Buku materi kuliah aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan ini sebenarnya belum lengkap, dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, berba-gai kritik, koreksi dan masukan dari para ahli psikologi, ahli pendidikan, maupun para mahasiswa dangat penulis harapkan, guna mendapatkan hasil yang lebih lengkap lagi. Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan sumbangan manfaat bagi para mahasiswa psikologi dan siapa saja yang berminat mendalami aliran-aliran psikologidan penerapannya pendidikan. Harapan yang lebih jauh dari penulis adalah buku materi kuliah aliran-aliran psikologi dan penerapannya dalam pendidikan ini ke-lak dapat diterbitkan setelah melalui berbagai penyempurnaan, sehingga manfaatnya dapat menjangkau kalangan masyarakat yang lebih luas. Surabaya, 24 April 2006 Penulis, Drs. Psi. Suroso, MS. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i KATA PENGANTAR ………………………………………………………… ii DAFTAR ISI …………………………………………………………………. iii A. PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1 B. ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI ………………………………………. 8 B.1. BEHAVIORISTIK (Behavioral Psychology) …………………..… 8 B.2. PSIKOANALISIS (Freudian Psychology) ……………………….. 13 B.3. HUMANISTIK (Humanistic Psychology) ………………………… 29 B.4. TRANSPERSONAL (Transpersonal Psychology) ………………. 32 C. BAHAN DISKUSI ……………………………………………………….. 35 C.1. Observational Learning …………………………………………… 35 C.2. Menuju Pendidikan Mempertajam Rasa ….………………………. 39 C.3. Tantangan Lebih Diperlukan Bukan KesuksesanYang Diperoleh Dengan Mudah ……………………………………………………… 44 D. DAFTAR BACAAN …………………………………………………….. 52 ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM BIMBINGAN KONSELING Drs. Psi. Suroso, MS. A. PENDAHULUAN Usaha-usaha pembaharuan di bidang pendidikan selalu melibatkan psikologi, karena psikologi mempunyai peranan yang sangat penting, bahkan dalam kegiatan pembaharuan mengenai system dan pelaksanaan pendidikan serta pengajaran, psiko-logi sering dijadikan dasar pertimbangan yang paling menentukan. Adanya pengajaran individual (individualized instructional), programmed learning, progressive education, pusat minat dan metode global merupakan contoh konkrit mengenai hal tersebut. Kenyataan ini menuntut para sarjana psikologi, khu-susnya yang berorientasi pendidikan untuk bertindak disamping sebagai “scientist”, juga sebagai teknolog. Sebagai scientist ia harus mampu mencari keberanaran-kebe-naran dan mampu mengembangkan psikologi sebagai ilmu pengetahuan dengan cara mengembangkan teori-teori dan hukum-hukum tentang tingkah laku manusia, baik tingkah laku yang nampak dan dapat diamati secara langsung oleh panca indra (overt behaviour), maupun tingkah laku yang tidak nampak yang dalam praktek hanya dapat diamati secara tidak langsung, seperti berfantasi, berfikir, mengingat, merasakan, ber-kemauan, dan sebagainya. Sebagai Teknolog atau ahli teknologi ia harus mampu melihat kaitan hukum-hukum dan teori-teori tersebut dengan praktek pendidikan dan pengajaran. Untuk memenuhi tugas tersebut sarjana psikologi pendidikan melaksanakan penelitian-penelitian, baik yang bersifat eksploratif, adaptif, maupun yang aplikatif, melalui metode-metode yang bersifat empiris, baik yang eksperimental maupun non-eksperimental dengan menggunakan analisis yang bersifat kuantitatif, maupun kuali-tatif. Bidang-bidang psikologi di Indonesia, yang kiranya dapat memberi sumbangan besar bagi usaha-usaha pembeharuan pendidikan dan pengajaran belum dikembang-kan secara intensif dan maksimal. Penelitian-penelitian di bidang seperti psikologi anak, psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan psikologi kepribadian yang dilakukan di negeri kita ini masih sangat sedikit, dan ruang lingkup penelitian-pene-litian tersebut masih sangat terbatas (Masrun, 1978). Dari penelitian yang jumlahnya masih belum banyak ini, sebagian besar dilakukan dilakukan di kota-kota dan daerha sekelilingnya, dengan menggunakan subyek-subyek yang pernah atau sedang menga-lami pendidikan formal di sekolah-sekolah. Sedikit sekali penelitian yang dilakukan terhadap mereka yang hidup di desa-desa yang jauh dari keramaian kota. Dari uraian di atas, guna memotivasi pembaca agar tergugah melakukan apa yang menjadi harapan yang tersirat dan terurai di atas, penulis mengajak mengenali empat pendekatan psikologi, yaitu pendekatan behavioristik, pendekatan psiko-analisis, pendekatan humanistik, dan pendekatan transpersonal. Selanjutnya mencoba membahas bagaimana pendekatan-pendekatan tersebut diterapkan dalam pendidikan. Keempat pendekatan tersebut oleh Zohar (2001), diuraikan secara berurutan, yaitu pendekatan behavioristik, psikoanalisis, humanistic, dan yang terakhir transper-sonal. Zohar (2001) mengomentari kemunculan aliran transpersonal : Sebenarnya psi-kologi humanistik (psikologi angkatan ketiga) sedang bermetamorfosis, seperti ular yang berganti kulit untuk melahirkan psikologi angkatan keempat yaitu psikologi transfersonal. Psikologi transfersonal telah menjadi jiwa, (yang kini didefinisikan jauh di atas definisi angkatan-angkatan sebelumnya) sebagai pusat kajiannya. Psikologi transfersonal telah meniupkan kembali ruh pada psikologi yang telah dibunuh oleh behaviorisme atau dipukul pingsan oleh psikoanalisis. Behavioristik Aliran ini dimulai dari Pavlov pada akhir abad XIX, merupakan aliran psikologi (ilmu jiwa) yang tidak peduli dengan jiwa. Para psikolog kelompok ini hanya mem-pelajari perilaku yang nampak, dan karena itu dapat diukur, psikologi adalah ilmu pengeta-huan, dan ilmu pengetahuan hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati. Jiwa jika didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diamati, maka berarti berada di luar wilayah psikologi. Psikosis bukan gangguan kejiwaan, melainkan perilaku yang menyimpang (mal-adaptive behavior) akibat kondisioning yang terus menerus (ingat kondisiononing klasik Pavlov). Di depan anjingnya yang sudah dilaparkan, Pavlov membunyikan bel, anjing tidak mengeluarkan air liur. Kemudian dihadapan anjing disajikan daging, an-jing keluar air liur, selanjutnya setiap kali bel dibunyikan daging dihidangkan, akhir-nya anjing keluar air liur meskipun daging tidak disajikan lagi. Bel sudah menjadi “conditioned stimulus” dan air liur menjadi “conditioned response”. Eksperimen Pavlov tersebut dilanjutkan oleh muridnya, yaitu dengan melatih an-jing untuk (mengkondisikan) membedakan lingkaran dan elips, anjing mengeluarkan air liur ketika melihat elips, tetapi tidak ketika melihat lingkaran. Secara perlahan-lahan bentuk elips tersebut diubah menjadi menyerupai lingkaran, akhirnya anjing tidak lagi mampu membedakan keduanya. Pada eksperimen selanjutnya kemampuan anjing untuk membedakan kedua ben-tuk tersebut bukan saja membaik, tetapi bahkan menjadi semakin buruk dan akhirnya hilang sama sekali. Pada saat yang sama perilaku anjing itu berubah secara drastis, yang tadinya penurut dan patuh menjadi galak, bahkan ketika dibawa ke ruang eks-perimen anjing tersebut menyalak keras dan siap menyerang. Pavlov menyebut hal ini sebagai “neurosis eksperimental”. Manusia akan mengalami hal yang sama bila ia berhadapan dengan situasi stres yang tak mampu diatasi. Perilaku maladaptif didefinisikan sebagai reaksi yang tidak dike-hendaki sebagai akibat proses belajar yang keliru atau stres yang berkelebihan. Jadi apa yang disebut sebagai gangguan jiwa itu tidak ada hubungannya dengan jiwa sama sekali, maka untuk mengobatinya anda tidak perlu meneliti jiwanya, suruh saja pasien anda melakukan kondisioning yang baru, yaitu kontra kondisioning membalik proses kondisioning. Penggunaan teknik kontrakondisioning tersebut atau mungkin modifikasi peri-laku mungkin efektif, tetapi bila dilengkapi dengan pengubahan cara berfikir (memo-difikasi dengan psikologi kognitif). Dalam hal ini manusia tidak lagi dipandang se-bagai makhluk pasif, yang tunduk sepenuhnya terhadap lingkungan, bukan lagi meja lilin, tabula rasa yang dapat dibentuk seenaknya oleh stimulus. Bukan lagi mesin, tetapi pengolah informasi dan pemecah masalah. Secara aktif dia memperhatikan, menafsirkan, mengolah dan menggunakan informasi. Meskipun begitu behaviorisme tetap menolak menerima pengolahan informasi ini pada jiwa manusia yang tidak bisa diamati. Psikoanalisis Kelompok psikologi ini sering disebut psikologi dalam, ia mencari sebab-sebab perilaku manusida pada dinamika jauh di dalam dirinya, yaitu pada alam tak sadarnya. Ketika pasiennya menunjukkan masalah-masalah fisik tanpa ada sebab-sebab fisik yang diketahui, Freud kemudian menghipnotisnya untuk menghilangkan gejala his-terisnya. Menurut Josef Breuer temannya, yang melaporkan bahwa dalam hipnotis pasien dapat mengingat dan memahami pengalaman emosional yang menjadi penye-bab gejala. Berdua mereka kemudian menggunakan hipnotis untuk menangkap kem-bali memori yang terlupakan, namun tidak semuanya berhasil, lagi pula sebagian pasien sulit dihipnotis dan dampak positif hipnotis tidak berlangsung lama, akhirnya metode ini ditingalkan. Menurut psikoanalisis, semua perilaku manusia, baik yang nampak (ge-rakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) disebabkan oleh pristiwa men-tal sebelumnya. Ada peristiwa mental yang kita sadari, ada yang tidak , tetapi mudah kita akses (preconscious), dan ada yang sulit kita bawa kealam sadar (unconsscious), dan yang terakhir ini yang menjadi perhatian psikoanalisis. Dalam alam tak sadar inilah terdapat dua struktur mental yang merupakan bagian terbesar dari gunung es (di bawah laut) kepribadian kita, yaitu Id merupaka reservoir energi psikis yang hanya memikirkan kesenangan, dan Super Ego merupakan reservoir kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya. Di puncak gunung es (diper-mukaan laut) ada Ego yang berfungsi sebagai pengawas realita. Apa yang dilakukan individu adalah hasil interaksi (atau konflik) antara ketiga struktur mental tersebut. Sesuai dengan perkembangan kepribadian kita pada masa kanak-kanak, kita dikendalikan sepenuhnya oleh Id. Pada tahap ini berlaku proses berfikir yang disebut Freud sebagai primary process thinking, berfikir proses pertama. Anak tidak dapat membedakan antara yang nyata dan tidak nyata, antara aku dan bukan aku, dan tak mampu menekan impuls. Dia ingin memenuhi keinginannya waktu itu juga. Jika tidak dapat memuaskan kebutuhannya dia tidak mampu menangguhkannya sampai nanti, tetapi berusaha menggantinya. Jika bayi tidak memperoleh botol susunya ia akan menghisap ibu jarinya. Pada remaja dan orang dewasa, ego sudah berkembang, mereka mengikuti ber-fikir proses kedua secondary process thinking. Manusia sudah belajar menangguhkan pemuasan keinginannya untuk sesuatu yang lebih bagus, menghindari makan enak un-tuk bisa menabung. Seorang dewasa tidak begitu saja mengganti pemuas kebutuh-annya karena tak dapat memenuhi kebutuhan awalnya, walaupun begitu ada orang dewasa sesekali muncul berfikir proses pertama, ketika di kantor bos anda memarahi anda, anda pulang memarahi anak anda, bos anda digantikan anak anda. Jika pola berfikir anak-anak ini menguasai seorang dewasa, terjadilah perilaku abnormal. Jika ada berfikir proses pertama dan kedua, adakah proses ketiga ?, karena psikoanalisis dalam melacak abnormalitas pada proses primer yang mendominasi orang dewasa. Psikoanalisis mampu menjelaskan penyakit psikis akibat luka lama da-ri masa kecil kita, tetapi bisu ketika berhadapan dengan derita karena kekosongan ek-sistensial, karena kebingungan dalam memberikan makna. Ia sangat trampil dalam menganalisis konflik di antara daya-daya psikis , antara impuls dengan pertahanan, jiwa dengan tubuh, maturasi dengan regresi, id dengan super ego, sek dengan agresi. ia hanya melihat jiwa sebagai pekerja keras untuk menyembuhkan luka-luka akibat konflik itu. Tujuan psikoanalisis adalah mengurangi derita neurotis menjadi ketidak-bahagiaan biasa. Carl Gustav Jung (murid Freud) tidak setuju dengan Freud yang terlalu berle-bihan dalam penekanan masalah seksualitas. Ketidaksadaran bukan hanya terdiri atas komponen instingtual, tetapi juga spiritual. Jiwa kita tidak hanya mengandung keti-daksadaran personal, himpunan pengalaman dalam kehidupan kita, tetapi juga keti-daksadaran kolektif, simpanan pengalaman yang dihimpun oleh nenek moyang kita selama jutaan tahun, sejarah tak tertulis dari kemanusiaan sepanjang masa. Psikologi terlalu rendah jika hanya bertujuan mengurangi neurosis, psikologi harus membantu manusia untuk menyambungkan dirinya dengan kedua alam tak sadar ini. Jung me-nyebut individuation sebagai pengintegrasian ketidak sadaran kolektif dalam kesa-daran individu. Ketidaksadaran kolektif mengandung arketipe di dalamnya, atau bentuk uni-versal yang membentuk jiwa dan mengorganisasikan pengalaman psikologis. Contoh arketipe antara lain : anak tuhan, bidadari, tukang sihir, ksatria, raja, ratu, orang bijak dsb. Kesehatan psikologis adalah kemampuan untuk membiarkan arketipe ini memasuki kita, memberikan bentuk pada pengalaman psikologis kita dengan mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psi-kologis timbul karena hanya mampu mengidentifikasi beberapa arketipe sehingga membatasi jati diri dan perasaan. Misalnya jika jati diri seseorang adalah memainkan lakon tuan yang galak di tempat kerja dan dia tidak dapat memasukan arketipe lainnya ke dalam pengalam-annya ketika dia pulang. Ketika ia hanya memainkan lakon tuan yang galak ketika ia bermain dengan anak atau istrinya, kehidupannya akan terbatasi. Kekayaan pengalaman dari perasaan, kreativitas, dan spontanitas kehidupan tidak dapat mengalir ke dalam dirinya. Makna utamanya adalah membuka diri pada arketipe yang lain atau energi universal dan membiarkan energi ini mengisi penga-laman kita. Pusat arketipe jiwa adalah the self (diri). The self digambarkan sebagai mandala yang merupakan citra the self, arketipe pusat. Jung percaya bahwa kita tidak dapat secara langsung mengalami the self, tetapi ia harus diketahui secara tidak langsung. Kita mendapat bimbingan dan pengarahan darinya melalui simbol mimpi dan citra. Citra yang menggambarkan the self berubah ketika orang bergerak menuju arah yang baru. The self itu sendiri tetap sama, tetapi gambaran the self berubah dan perlu diperbarui secara periodik. Menurut Jung, ego berkembang pada paro pertama kehidupan dan difokuskan pada dunia dan tindakan melakukan sesuatu, menjalankan, membentuk ego indepen-den, dan mencapai kemampuan tertentu di dunia. Akan tetapi pada usia 35 sampai 45 tahun atau lebih tua, pada paro baya, ego yang dewasa mulai menderita perasaan kete-rasingan dan kehilangan makna. Ia mulai menengok ke dalam. Separo kehidupan ke-dua ditandai dengan memusatkan perhatian pada kehidupan batiniah dan memuncul-kan apa-apa yang belum dikembangkan pada paro kehidupan yang pertama. Misalnya, jika bagian jiwa yang aktif bersifat maskulin “berbuat” (doing) dominan pada paro pertama, sisi jiwa yang feminin “mengada” (being) akan menjadi lebih dominan pada paro yang kedua. Apabila orang tidak mau mendengarkan gerakan batiniah ini dia akan mengalami derita psikis yang makin berat, kekosongan dan alienasi. Pembagian kehidupan manusia pada dua paro sebagai mana tersebut di atas dapat dilihat pula lewat tahapan berikut ; Tahap pertama preegoic, adalah masa pra oedipus, ketika ego yang lemah dan belum berkembang dikuasai oleh ketidaksadaran kolektif. Tahap kedua, pada pagi hari kehidupan, ego yang mendewasa melepaskan diri darinya. Pada tahap ketiga, pada sore hari kehidupan, ego yang kuat dan dewasa diserahkan dan disatukan kembali dengan ketidaksadaran kolektif, di sini manusia menempuh perjalanan panjang menuju kedalaman ruhnya. Inilah kehidupan spiritual. Kehidupan spiritual adalah kehidupan yang ditempuh mengikut sebuah cita-cita saat orang dengan tabah memilih jalan hidupnya, menuntut kehidupan yang melintasi konvesi-konvesi sosial, moral, religius, politis dan filosofis. Anak-anak sejati Tuhan adalah dia yang berani melanggar konvesi dan mengambil jalan curam dan sempit menuju dunia yang tak diketahui. Kehidupan seperti itu menurut Jung disebut “voca-tion” berpisah dengan kelompok dan mengorbankan diri untuk memenuhi panggilan. Individu dipanggil untuk mengikuti bintangnya, untuk menaati hukumnya, untuk mendengarkan bisikan dari ruhnya yang terdalam. Jika manusia tidak mau mende-ngarkan suara batinnya, dia mengalami neurosis. Dia akan terhambat dalam perkem-bangan kesadarannya. Di tangan Jung, alam tak sadar Freud yang instingtif-seksual berubah menjadi reservoir energi spiritual. Tidak heran ketika Freud meminta Jung berhenti bicara tentang spiritual, ia menolaknya, Jung kemudian dikucilkan dari ko-muniktas psikoanalisis. Perbantahan ini tergambarkan ketika mereka memperbincangkan masalah para psikologi, Jung menjelaskan gejala psikologis dengan mengakui keberadaan ruh. Freud membantahnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam lemari buku. Kata Jung suara keras itu mendukung pembicaraan topik parapsikologi mereka, dia me-ramalkan bahwa suara itu akan terdengar lagi, Freud tetap membantah, dan memang suara itu terdengar lagi. Tak lama setelah itu Freud menulis surat kepada Jung bahwa pengalaman spirituil itu tidak penting. Jung tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan lahirlah konsep sinkronisiti (kebetulan yang berarti) yang menunjukkan hubungan jiwa manusia dengan peristiwa psikis. Suara keras dari lemari adalah manifestasi ar-ketipe dari ketidaksadaran kolektif, adalah tugas kita untuk memperhatikan simbol-simbol itu dan mempergunakannya untuk membimbing kehidupan kita. Menjelang kelahiran psikologi tranpersonal, Jung menjadi semakin populer, tetapi sebelum sampai ke psikologi transpersonal, psikologi Jungian harus melewati dahulu sentuhan psikologi humanities. Psikologi Humanistik Aliran psikologi humanistik ini muncul sebagai reaksi terhadap behavioristik dan psikoanalisis, keduanya dianggap telah mereduksi manusia sebagai mesin atau makhluk yang rendah. Psikoanalisis berkutat pada insting-insting hewani dan mema-hami manusia dari perilaku pasien. Maslow, salah seorang perintis kelompok ini me-ngatakan bahwa “Dengan sedikit menyederhanakan, kita dapat menyatakan bahwa Freud seakan-akan memasok kita separo psikologi yang sakit, dan sekarang kita harus mengisinya dengan paro lainnya yang sehat”. Selain itu meneliti manusia-manusia yang sakit, tidaklah lebih berguna me-ngumpulkan keterangan mengapa orang itu sehat, bagaimana orang dapat tetap hidup bahagia di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya. Dalam kehidupan, kita me-nemukan orang yang bahagia dalam situasi dan kondisi tertentu, juga orang yang ba-hagia dalam kondisi apapun. Kita simak pengalaman seorang tahanan kamp konsentrasi Nazi yang menge-rikan. Setiap hari ia menyaksikan tindakan kejam, penyiksaan, pembunuhan masal di kamar gas atau eksekusi dengan aliran listrik. Pada saat yang sama, dia juga menyak-sikan peristiwa-peristiwa yang sangat mengharukan ; berkorban untuk rekan, kesa-baran yang luar biasa, dan daya hidup yang luar biasa. Selain para tahanan yang ber-putus asa mengeluh “mengapa semua ini terjadi padaku ?, mengapa aku harus me-nanggung derita ini ?, ada juga para tahanan yang berfikir “apa yang harus saya laku-kan dalam situasi yang mencekam seperti ini ?”. Hal yang membedakan keduanya adalah pemberian makna, pada manusia ada kebebasan yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh pagar kawat berduri sekalipun, itu adalah kebebasan untuk memilih makna. Sambil meminjam pemikiran Freud ten-tang efek berbahaya dari represi dan analisis mimpinya., Frankl menentang Freud ketika ia menganggap dimensi spiritual manusia sebagai sublimasi dan insting hewa-ni. Sambil memuji Jung karena mengungkap keberagaman tak sadar, ia mengkritik Jung karena psikologismenya. dengan landasan fenomenologis Frankl membantah ke-duanya yang menjelaskan perilaku manusia sebagai akibat dari proses psikis saja. baginya pemberian makna berada di luar semua proses psikologis, dia mengembang-kan teknik psikoterapi yang disebut logoterapi. Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi : fisik, psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan pada aga-ma, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikologis. Kedokteran termasuk psikoterapi, telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sum-ber kesehatan dan kebahagiaan. Tanpa memperhitungkan dimensi spiritual, kita akan melihat si Anu sebagai penderita epilepsi dan si Anu lain sebagai skizopren. Dimensi spiritual disebut Frankl sebagai noos, yang mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan kita untuk memberi makna orientasi tujuan kita, kreativitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar mencintai yang visio-psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali super ego, selera humor kita. Di da-lamnya juga terkandung pembebasan diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transenden diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spirit, kita tidak dipandu, kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Reservoir kesehatan ada pada setiap orang, apapun agama dan keyakinannya. Kebanyakan dari reservoir ini terdapat di alam tak-sadar kita, adalah tugas seorang logoterapis untuk menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini. Terkait dengan logoterapi ; ada lima cerita yang menggambarkan situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah hidup kita, menyusun hidup kita yang porak poranda. Pertama, kita temukan ketika kita menemukan diri kita ; Amin seorang guru pernah kehilangan sepatunya di Masjid. Ketika ia sedang bersungut-sungut meledakan kejengkelannya, ia melihat seorang penceramah yang berbicara dengan senyum ceria, tampak dalam perhatiannya bahwa penceramah itu tak mempunyai kaki. Tiba-tiba ia disadarkan, segala kejengkelannya mencair. Dia sedih kehilangan (hanya) sepatu, padahal ada orang yang tertawa ria walaupun kehilangan kedua kakinya. Kedua, makna muncul ketika kita menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika kita terjebak dalam suatu keadaan – ketika kita tidak dapat memilih. Seorang ekse-kutif pindah dari Bandung ke Jakarta, dia mendapat posisi yang sangat baik dan gaji sangat melimpah, tetapi dia kehilangan waktu untuk bercengkerama de-ngan keluarga dan anak-anaknya. Dia ingin mempertahankan jabatannya dan ingin mempunyai wak-tu lebih banyak untuk keluarga. Pada suatu hari dia berdiri didepan rapat pimpinan dan menyatakan mengundurkan diri. Saat itu dia merasakan kebaha-giaan mene-mukan kembali makna hidupnya. Ketiga, makna ditemukan ketika kita merasa isti-mewa, unik, dan tak tergantikan orang lain. “Saya senang bersama cucu saya”, kata seorang nenek. “Cucu saya mengatakan ‘ikuti aku nek’ dan saya menuruti semua ke-mauannya. Tak ada seorangpun yang dapat melakukan itu baginya. Ibunya juga tidak karena terlalu sibuk. Seorang mahasiswa merasa sangat bahagia ketika Presiden menanyakan panda-patnya. “Bayangkan, seorang presiden menanyakan pendapatku”. Untuk mendapatkan pengalaman seperti itu, kita tidak selalu (harus) memerlukan presiden, carilah orang yang mendengarkan kita dengan penuh perhatian, kita akan merasa hidup kita ber-makna. Keempat, makna membersit dalam tanggung jawab. Seseorang berkisah tentang seorang pemuda yang diminta menjaga barang sahabatnya, tiba-tiba ada se-seorang yang menawar barang tersebut dengan harga yang sangat mahal. Terpikir olehnya untuk menjual barang tersebut untuk memperoleh banyak uang, toh bisa dibuat alasan bahwa barang tersebut dicuri orang, tetapi begitu pemuda tadi akan memberikan barang tersebut ke pembeli yang menawar tadi, ia merasa ada sengatan keras di jantungnya. Ketika kemudian ada telepon dari calon pembeli tadi, dijawab oleh si pemuda bahwa barang tadi tidak jadi di jual. Setelah itu si pemuda mengalami perasaan bahagia yang amat sangat sepanjang hidupnya. Kelima, makna mencuat dalam suasana transendensi, gabungan dari keempat di atas. Ketika mentransen-denkan diri kita, kita melihat seberkas diri kita yang autentik, kita membuat pilihan, kita merasa istimewa, kita bertanggung jawab. Transendensi adalah pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar pengalaman kita yang biasa, ke luar suka dan duka kita, ke luar diri kita yang sekarang, ke konteks yang lebih luas. Kita akhirnya dihadapkan pada makna akhir “ultimate meaning”, yang menya-darkan kita akan aturan agung yang mengatur alam semesta, kita menjadi bagian penting dalam aturan ini, apa yang kita lakuka mengikuti rancangan besar, yang di-tampakkan kepada kita. Tidak menjadi soal apakah ia berasal dari kesadaran kolektif Jung atau dimensi spiritual Frankl. Pada posisi ini aliran psikologi dengan cepat meloncat ke psikologi tanspersonal. Psikologi Transpersonal Menurut Maslow psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Atas segala kritiknya terhadap angkatan-ang-katan sebelumnya. psikologi transpersonal kelanjutan dari psikologi humanistik, yang pada gilirannya melanjutkan pemikiran Jung dan Frankl. Psikologi transpersonal be-rusaha menggabungkan tradisi psikologis dengan tradisi agama-agana besar dunia. Dia ingin mengambil pelajaran dari kearifan perenial (philosophia pirennis). Sepanjang jaman, manusia bertanya : “Siapakah aku ?”. Tradisi keagamaan men-jawabnya dengan menukik jauh ke dalam, “Wujud spiritual ruh”. Praktik-praktik kea-gamaan mengajarkan kita untuk menyambungkan diri kita dengan bagian diri kita yang terdalam ini. Psikologi modern menjawab dengan menengok ke dalam (tidak terlalu dalam), “Self, ego, eksistensi psikologis”, dan psikoterapi adalah perjalanan psikologis untuk menemukan diri ini. Psikologi transpersonal menggabungkan kedua jawaban ini, ia mengambil pelajaran dari semua angkatan psikologi dan kearifan perenial agama. Ia mengajarkan praktik-praktik untuk mengantarkan manusia pada kesadaran spiritual, di atas id, ego, dan super ego Freud. Agama-agama berbicara tentang kesadaran spiritual yang luas dan multidimensi-onal. Diri kita, eksistensi psikologis kita, hanyalah penampakan luar dari esensi spi-ritual kita. Penjelasan psikologis yang hanya berkutat pada penampakan luar jelas tidak memadai. Menyembuhkan gangguan mental dengan menggarap diri lahiriah kita sama saja dengan mendorong mobil mogok tanpa memperbaiki mesinnya. Cortright mengemukakan, bahwa studi sedalam apapun tentang genetika, biokimia, atau neu-rologi, pada satu sisi, atau sistem keluarga, interaksi ibu-anak, dan pengalaman masa kecil pada sisi lain, atau dengan perkataan lain, tak ada penjelasan apapun, yang memperhitungkan hanya penampakan luar dari masalah nature (bawaan) dan nurture (lingkungan), dapat memberikan jawaban memuaskan pada masalah fundamental kehidupan. Hanya dengan memandang ke dimensi spiritual, yang memasukkan dan sekaligus mentransendenkan bawaan dan lingkungan, kita dapat mene-mukan jawaban yang tepat untuk masalah eksistensi manusia. B. ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI B.1. BEHAVIORISTIK (Behavioral Psychology) Psikologi pendidikan behavioral adalah psikologi pendidikan yang utama di Ame-rika saat ini. Bahkan, ketika mereka bicara tentang spesialisasinya, profesor “psiko-logi pendidikan” biasanya menghilangkan kata “behavioral”. Behaviorisme hampir menjadi psikologi akademik. Para behaviorist, dalam hal ini, berusaha mengamankan posisinya dengan mengumumkan terbentuknya psikologi pendidikan secara resmi. Seperti gereja resmi di berbagai negara, mereka mempunyai hak untuk praktek dan mendapat dukungan dana dan politik. Politik ini disukseskan oleh sekte behavioral dari para psikolog pendidikan yang menjadi bukti adanya adopsi dari sasaran beha-vioral dalam program yang didasarkan pada “kompetensi”. Ada dua prinsip yang membantu dalam upaya untuk memahami bagaimana psi-kologi behavioral berguna dalam praktek pendidikan: 1) Orang belajar apa yang pantas untuk dipelajari; 2) Ketahuilah dengan jelas tentang apa yang anda pelajari. Seperti Law of Motion-nya Newton, mereka sederhana dalam prinsip tetapi kompleks dalam aplikasinya. B.1.1. Kemurnian (Clarity) Bila ada satu kemampuan yang membedakan kita dari hewan, itu adalah ke-mampuan kita untuk berpikir. Keinginan para behaviorist pada clarity akan menyang-kut pada kemampuan manusia tersebut, dan cara behaviorist berpikir tentang learning membantu kita untuk membuat lebih jelas tentang tujuan-tujuan pendidikan, sukses yang terkait dengan berbagai aktivitas ruang kelas yang berbeda, dan penilaian kita terhadap aktivitas tersebut. Berpikir secara jelas menyangkut apa yang kita kerjakan adalah bagian integral dalam melakukannya. Lagipula, bila kita akan mengajar, maka kita membutuhkan satu ide jelas tentang apa yang akan kita ajarkan. Kita juga perlu untuk mengetahui seberapa berhasil kita dalam mengembangkan atau memilih latihan baru dalam ruang kelas. Semakin akurat kita menilai apa yang telah dipelajari oleh murid, semakin akurat kita dapat mengembangkan pengajaran kita. Kita dapat menga-takan apakah kita telah melakukan hal yang benar dengan melihat hasil apa yang telah kita lakukan. Inilah tujuan behavioral, membuat kita melihat hasil apa yang kita lakukan. Apa-kah seseorang menyebutnya instructional objectives, behavioral objectives, perfor-mance criteria, atau istilah-istilah lain, hal yang paling utama adalah dengan me-ngetahui secara jelas apa yang kita ajarkan, dan agar kita bisa melihat secara jelas adalah dengan melihat hasil yang kita lakukan. Kata “visible objectives” (tujuan yang tampak) mencakup hampir semua dari arti “behavioral objectives” dan relasi kog-nisinya. Untuk mengetahui apa yang telah kita lakukan, kita harus melihat hasilnya, dan karena kita berminat untuk mengajarkan sesuatu pada siswa, maka kita harus melihat visible behavior dari siswa, jadi, visible objectives selalu tertulis dalam istilah apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang diajarkan guru di kelas. Setelah visible objective ditulis maka guru merencanakan pola pengajarannya dikelas hingga siswa bisa mencapai tujuannya. Dengan demikian, menulis rencana pelajaran dilakukan se-telah menyatakan visible objectives. B.1.2. Reinforcement Ide utama dalam psikologi behavioral yang diaplikasikan pada pendidikan adalah yang berkaitan dengan reinforcement. Reinforcement adalah konsekuensi dari tin-dakan yang membuat tindakan tersebut cenderung akan diulangi. Orang yang tidak memahami hal ini kadang membuat kesalahan dengan mengatakan,”Behaviorisme tidak bekerja dengan baik. Saya telah memberinya reinforcement tetapi tak ada yang terjadi.” Sesuatu bukan merupakan reinforcement kecuali bekerja dengan baik, mi-salnya, kecuali ia merubah behavior. Yang diamaksud orang-orang disini adalah bah-wa mereka bermaksud untuk mereinforce behavior yang mereka inginkan tetapi se-sungguhnya mereka tidak melakukannya. “Reinforcement” sama dengan kata “re-ward”. Idenya sederhana tetapi ragam jenis dan tekniknya kadang kompleks dan me-ngejutkan. Ini dalah salah satu kompleksitasnya: Apakah sesuatu direinforce atau tidak bergantung pada orangnya dan ini bisa beragam dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Seseorang tak bisa begitu saja mendaftar obyek, aktivitas, perasaan, atau hubungan yang merupakan reinforcer atau bukan. Bukti dari reinforcement dalam adonan behavioural adalah : Apakah behavior subsekuennya berubah ? Ada berbagai cara untuk mengelompokkan reinforcement dan kategorinya tidak bersifat eksklusif. Perbedaan intrinsik/ekstrinsik didasarkan pada apakah behavior melakukan reinforcing sendiri atau apakah ia di-reinforce karena manfaat subsekuen yang bukan merupakan bagian integral dari behavior. Sebagai misal, rasa bangga akan prestasi, kepuasan karena keingin-tahuan telah terpenuhi, kesenangan dalam learning, kesenangan estetik, dan banyak aspek dari sex dan perasaan tubuh lain yang dinik-mati, bukan karena mereka mengarah pada extrinsic reward. Cara kedua untuk mengelompokkan reinforcement adalah postive/negative. Dalam kedua kasus reinforcement membuatnya sama dengan behavior yang akan timbul lagi, dalam kasus positif karena ia menyenangkan dan dalam kasus negatif karena ia meng-hentikan situasi yang tidak disukai oleh seseorang. Senyum seorang guru, kata-kata penghagaan, semangat dari teman kelas, semuanya sama dengan fungsi sebagai po-sitive reinforcement, hal-hal tersebut cenderung membuat tindakan seseorang terjadi lagi. Perbedaan antara apa yang kita inginkan untuk direinforce dan apa yang sebe-narnya kita lakukan untuk me-reinforce adalah hal yang penting bagi guru dan orang tua. Negative reinforcement juga membuat behavior lebih cenderung untuk timbul lagi karena siswa mendapat penghargan dari tindakannya dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan yang dilingkupi kegelisahan dan perasaan bersalah. Sebegai misal, seorang anak yang menderita sakit perut dan diijinkan untuk me-ninggalkan sekolah pada hari ia harus menjalani tes telah dihargai karena sakitnya dengan melepaskan diri dari ujian. Cara ketiga untuk mengelompokkan reninforcement adalah dengan melihat apakah mereka self-administered, social (datang dari orang lain), atau impersonal. Mahoney dan Thoreson menunjukkan satu cara untuk mengajarkan orang bagaimana mengem-bangkan behavioral skill bagi maksud intrinsik mereka sendiri. Sayangnya, para be-haviorist mempunyai reputasi dalam mengontrol orang lain. Artikel Mahoney-Thoreson menunjukkan satu pola baru dalam behaviorism: Setiap orang mempunyai controller sendiri. Orang yang melakukan kontrol terhadap reinforcement-nya sendiri adalah orang yang benar-benar independen. Behavioral self-control adalah satu cara untuk mencapai independensi. Ia bergantung pada pemilihan aktivitas yang secara intrinsik menghargai dan melakukan kontrol pada penghargaan ekstrinsik seseorang. Social reinforcement berarti reinforcement yang datang dari orang lain seperti perhatian, penghargaan, senyum, menjawab pertanyaan, bicara, atau semua interaksi yang menyenangkan. Tampak jelas dalam daftar tersebut, sebagian besar dari inte-raksi harian kita dengan orang lain dapat direinforce; meski kita tidak menganggap mereka sebagai reinforcement pada saat itu. Satu kompleksitas lain dari behavioral psychology tampak ketika kita memperhatikan bahwa seseorang mempunyai banyak hubungan sosial yang terjadi pada satu saat. 1. Reinforcement adalah ide yang paling penting dalam behavioral psychology yang diaplikasikan pada pendidikan. Ketika Freudian berpikir tentang human behavior, mereka akan segera bertanya,”Dimana ketidaksadaran timbul? Ktika para behaviorist merencanakan pendidikan, ketika mereka menjelaskan me-ngapa seseorang melakukan apa yang dia lakukan, dan ketika mereka belajar bagaimana mengajar, pertanyaan yang mereka tanyakan adalah “Behavior apa yang direinforce?” Pilih reinforcement yang sesuai (bila tidak berjalan de-ngan baik, pilih yang lainnya). 2. Reinforcement harus datang setelah behavior. Hukum Nenek : Pertama makan sayuran, kemudian baru pencuci mulut. 3. Reinforcement harus datang sesegera mungkin setelah behavior. Guru yang tidak mengembalikan makalah muridnya sama sekali atau menundanya dalam waktu yang lama telah melakukan kesalahan profesional. 4. Banyak penghargaan kecil rasanya lebih baik dibanding satu yang besar. Ada berbagai variasi dalam reinforcement. Punishment adalah lawan dari positive reinforcement. Banyak orang mengaburkannya dengan negative reinforcement. Da-lam negative reinforcement orang dihargai dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Ada dua keanehan yang harus dilihat guru dalam memandang hukuman. Pertama, apa yang dianggap guru bahwa hukuman tersebut mempunyai ba-nyak elemen penghargaan didalamnya. Ini akan membawa masalah dalam penggu-naan hukuman; ia akan mereinforce guru dalam jangka waktu yang pendek. Biasanya ada penghentian dari behavior yang dihukum. Guru yang meraih perhatian kelas dapat membuat kelas sepi. Reaksi ini direinforce oleh guru dengan menggunakan hukuman. Bagaimanapun, kepatuhan ini hanya akan berlangsung sebentar dan murid akan bertindak lagi. Efek jangka pendek adalah untuk me-reinforce penggunaan hukuman dan efek jangka panjang adalah meningkatkan tindakan yang tak diinginkan. Guru di-reinforce secara negatif dengan menghentikan situasi yang tidak dia sukai (murid ber-keliling di kelas), dan murid direinforce secara negatif dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak disukai (duduk dibangku dengan mengerjakan tugas). Bisakah anda bayangkan orang tua yang mengatakan pada anaknya yang baru be-lajar bicara,”kau membuat kesalahan. Jangan bicara lagi sampai kau bisa mengucap-kannya dengan benar”? bila itu terjadi pada kita semua, mungkin kita takkan pernah belajar bicara. Apa yang dilakukan para orang tua secara alamiah adalah dengan me-reinforce anak-anak mereka pada setiap perkembangan ketika mereka belajar bicara. Pertama, mungkin melalui semua bunyi, kemudian hanya bunyi yang menyerupai ka-ta, kemudian kata yang tersusun dengan baik, dan seterusnya. Ini adalah proses shap-ing (pembentukan). Meski tujuan akhir ada dalam pikiran, biasanya perlu mengajar perilku yang diinginkan dengan memberi penghargaan pada tiap langkah kecil sepan-jang jalan. Dari sinilah bakat pengajaran yang asli kelihatan, yaitu dengan mengetahui kapan harus mereinforce dan kapan harus bergerak ke langkah selanjutnya. Apa yang terjadi bila behavior tidak di-reinforce atau dipunish? Setelah sesaat ia akan menjadi berkurang dan berkurang. Ini adalah extinction. Pernahkan anda men-dengar nasihat, “Jangan hiraukan dia?” itulah extinction. Extinction seringkali sulit dilakukan karena membuat kita harus tidak mengeluarkan reaksi pada hal-hal yang biasanya menimbulkan reaksi. Tetapi sekali extinction dimulai, penting untuk melan-jutkannya. Jenis extinction yang khusus adalah desensitization. Seperti dalam shaping, de-sensitization dilakukan dengan langkah-langkah kecil. Orang mulai desensitizasi sen-diri pada sesuatu yang sedikit mengganggunya, misalnya berbisik. Kemudian satu langkah setiap waktu, dia melakukannya pada hal-hal yang lebih besar, misalnya me-nyalakan dan mematikan lampu. Learning untuk melakukan toleransi pada satu situasi adalah cara lain yang terpikirkan tentang desensitizasi. Ini berguna untuk kondisi-kondisi semacam ketakutan yang tak beralasan dan contoh lain dari reaksi secara kebiasaan pada hal-hal yang orang belajar untuk tidak menghiraukannya. Reinforcement dengan berbagai tipe, shaping, punishment, extinction, dan desen-sitization adalah cara-cara spesifik untuk mengajarkan banyak hal pada orang. Peng-gunaan salah satu atau kombinasi dari mereka disebut sebagai behavior modification. Kita tak punya pilihan untuk memutuskan apakah kita takkan menggunakan behavior modification, untuk segala sesuatu yang kita lakukan pada orang lain, atau tidak me-lakukannya, efek terhadap apa yang dia lakukan. Bila kita putuskan untuk menghargai beberapa behavior, bahkan hanya dengan senyuman, kita telah menghargainya. Dan bila kita memilih untuk mengabaikannya, kita akan mematikan tindakannya, atau me-ngajarkan padanya bahwa dia akan dihargai nanti setelah dia melakukannya dengan gigih. Tak ada jalan untuk tidak menggunakan behavior modification. B.1.3. Perilaku Objektif (Behavioral Objective) Robert M. Gagne Clearer Thinking for Clearer Teaching. Berpikir adalah salah satu kemampuan terbesar dan potensi yang bisa dikembangkan dari manusia. Bagaimana para guru mengembangkan kemampuan ini dalam diri kita dan menggunakannya untuk mengembangkan pengajaran kita? Bagaimana kita bisa merasa jelas terhadap diri kita dan terhadap murid kita tentang apa yang kita upayakan untuk dilakukan? Ketika kita membantu seseorang untuk berkembang, bagaimana kita bisa tahu bahwa dia telah berkembang? Satu pendekatan bahavioral-objective adalah prosedur untuk membantu kita menjadi lebih jelas dan pasti. Sebagai satu rangkaian langkah untuk pemikiran yang jelas, pendekatan behavioral-objective berguna dalam pendidikan seperti satu formula yang digunakan dalam matematika dan ilmu pengetahuan lain, seperti grammar dalam menyusun bahasa, dan seperti rambu-rambu pada jalan yang menjadi pemandu bagi pengemudi. Mereka semua membantu kita untuk berpikir lebih jelas dan bertindak lebih efisien. B.1.4. Sifat Objektif Instruksional (Instructional Objektives) Pernyataan bahavioral objective ditujukan untuk membicarakan (bagi penerima tertentu atau kelompok penerima) hasil dari beberapa unit instruksi. Seseorang ber- asumsi bahwa tujuan umum dari isntruksi adalah learning pada bagian dari murid. Rasanya cukup alamiah bahwa seseorang seharusnya berupaya untuk mengiden-tifikasi hasil dari learning sebagai sesuatu yang para murid mampu melakukannya dengan mengikuti instruksi yang dia tidak mampu untuk melakukan sebelum ada instruksi. Ketika seseorang mampu mengungkapkan efek dari instruksi dengan cara ini, dengan menjabarkan performa yang bisa diteliti oleh learner, kejelasan dari per-nyataan tujuan ada pada tingkatan maksimum. Konsekuensinya, reliabilitas komu-nikasi pada instructional objectives juga mencapai tingkatan tertingginya. Bagi beberapa guru dan pendidik, tampaknya lebih penting untuk mengidentifikasi hasil learning dalam bentuk kapabilitas yang diperoleh learner sebagai akibat instruk-si dibanding dalam bentuk performa yang dia mampu lakukan. Kami seringkali me-nyebut bentuk tersebut sebagai “pengetahuan”, “pemahaman”, “penghargaan” dan la-in-lain yang bertujuan mengidentifikasi kapabilitas yang dipelajari atau disposisi. B.1.5. Penggunaan Perilaku Objektif melalui Sekolah Pernyataan yang menjabarkan instructional objective mempunyai tujuan utama untuk komunikasi. Dengan mengasumsikan bahwa pendidikan mempunyai bentuk sistem yang terorganisir, komunikasi menyangkut hasil aktual dan yang diinginkan sangat diperlukan, diantara perancang instructional material, perencana course dan program, guru, murid, dan orang tua. Agar proses pendidikan dapat berfungsi secara benar bagi learning, komunikasi dari berbagai hal tersebut harus terjadi. Ketika salah satunya dihilangkan, pendidikan menjadi kesatuan sistematik dengan satu derajat kehilangan yang bertujuan untuk mencapai tujuan kemasyarakatan tertentu yang bersinggungan dengan “orang dewasa yang berpendidikan”. Beberapa cara terpenting dimana berbagai komunikasi tentang tujuan dapat di-gunakan disekolah adalah dengan mengikuti hal-hal berikut. 1. Perancang instruksional kepada perancang course. Rangkaian komuniaksi ini memungkinkan seseorang merencanakan satu kursus dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya untuk memilih materi yang dapat menimbulkan hasil yang diinginkan. Sebagai contoh, bila satu kursus pada ilmu pengetahuan ditingkatan yunior mempunyai tujuan untuk “mengajar murid untuk berpikir secara ilmiah”, perencana akan mencari rangkaian materi yang memberi pe-nekanan learning pada skill intelektual dan strategi kognitif. Kebalikannya, bila tujuan dari kursus tersebut adalah “menyampaikan sudut pandang ilmiah dari ekologi bumi”, perencana kurikulum akan cenderung mencari materi yang terkait dengan learning menyangkut informasi yang ter-organisir yang ditunjukkan oleh beberapa tujuan seperti “menjelaskan ba-gaimana kandungan karbondioksida dalam udara bisa mempengaruhi suplai air bawah tanah”. 2. Perancang atau perencana kepada guru. Komunikasi menyangkut tujuan pada guru memungkinkan pihak terakhir tersebut untuk memilih cara yang sesuai dalam pemberian instruksi dan juga cara untuk mencapai efektivi-tasnya. Sebagai contoh, seorang guru bahasa asing yang mengambil sasaran “melafalkan kata-kata dalam bahasa Prancis yang mengandung uvular ‘r’” mampu (atau harusnya mampu) memilih satu bentuk instruksi yang membe-rikan praktek dalam pelafalan kata-kata Prancis yang mengandung ‘r’ dan untuk menolak ketidaksesuaian tujuan ini pada kuliah menyangkut “peng-gunaan uvular ‘r’ dalam kata-kata bahasa Prancis”. 3. Guru kepada murid. Ada banyak situasi instruksional dimana hasil learning diharapkan bisa tampak pada murid karena pengalamannya dengan instruksi yang sama. Sebagai contoh, bila dalam mata pelajaran matematika, dan to-piknya berubah dari penambahan pecahan menjadi perkalian pecahan, maka pemberian nama dari topik tersebut akan memadai untuk menyiratkan tujuan. 4. Guru atau kepala sekolah kepada orang tua. Tampaknya mengejutkan bahwa orang tua masih juga memperhatikan “nilai” dengan hanya membe-rikan sedikit informasi yang mereka sampaikan. Bila trend terhadap “kondisi yang bisa dipertanggung-jawabkan” (accountability) berlanjut, angka harus dihilangkan. Para guru tak bisa dipegangi tanggung jawab menyangkut A, B, dan C dan bahkan, angka-angka tersebut bertentangan dengan semua sistem accountability. Tampaknya basis dari accountability adalah instructional ob-jective. Karena hal itu harus mengungkapkan satu hasil learning, ia harus diungkapkan dengan terminologi behavioral. B.2. PSIKOANALISIS (Freudian Psychology) B.2.1. Bagaimana Mengajarkan Rasa Takut Donald J. Rogers Apakah sekolah adalah pabrik rasa takut? Rogers, seperti Neill, memusatkan per-hatian pada rasa takut (fear) dalam pendidikan; fokusnya adalah menyangkut seberapa jauh rasa takut yang muncul dari tekanan sosial dibanding yang muncul dari tekanan seksual. Seberapa jauh ketakutan sosial ini mempengaruhi imajinasi seseorang? Ba-gaimana kita mengatasi rasa takut dalam diri kita dan bagaimana kita menjaganya agar tidak merembet pada kolega dan siswa-siswa kita? Rogers menyarankan adanya self-acceptance, self-concept yang positif dan suasana learning yang nyaman. Bila sekolah benar-benar merupakan kontributor besar rasa takut dalam masyarakat kita, apakah rasa takut ini mempengaruhi proses psikologis kita dan muncul ketika kita memperlakukan diri kita dan orang lain? Rasa takut telah merembes pada sistem sekolah kita dari dewan sekolah lokal sampai ke guru diruang kelas. Tiap orang menderita dalam lingkungan yang apre-hensif ini, tetapi anak-anak adalah korban yang paling tragis karena mereka yang pa-ling tidak berdosa dan paling rentan terkena hal itu. Seringkali dikatakan bahwa di Amerika prestasi benar-benar dihargai. Nilai seseorang ditentukan, bukan melalui si-apa dia tetapi melalui apa yang dia lakukan, bukan melalui kualitas manusia tetapi melalui bagaimana dia bertindak dalam masyarakatnya. Para businessman Amerika sejak lama telah merasakan tekanan untuk menampakkan hasil usaha mereka. Seka-rang tekanan yang sama mulai melanda anak-anak kita. Dari media massa, para orang tua mempalajari laporan hasil tes prestasi yang menunjukkan angka-angka. Sekolah-sekolah negeri diadu dengan sekolah swasta, se-kolah progresif melawan sekolah tradisional. Selain adanya perasaan was-was yang ada saat ini, slogan “Untuk mendapat pekerjaan yang baik, tempuhlah pendidikan yang baik” masih mempengaruhi sikap publik Amerika menyangkut learning. Yang tidak bisa dipahami kemudian adalah, para orang tua merasa khawatir. Apakah benar anak-anak mereka belajar? Apa yang seharusnya mereka pelajari? Apakah mereka mampu menyerap informasi yang memadai disekolah untuk bisa bersaing dalam bursa lapangan pekerjaan? Keluar dari tekanan ini mereka akan masuk dalam gulatan rasa takut yang anak-anak disekolah tidak diajarkan hal yang memadai untuk menghadapi-nya. Dan keluar dari rasa takut ini muncul tuntutan untuk pertanggung-jawaban, in-sisttensi bahwa sistem sekolah harusnya memegang tanggung-jawab menyangkut kemajuan anak-anak tersebut. Ketika semakin banyak bukti statistik dari beberapa ganjalan terhadap kemajuan anak-anak, tekanan dalam sistem sekolah meningkat pula. Anggota dewan sekolah merasa khawatir, berapa banyak kritik lagi yang akan mereka terima? Apakah mereka akan dipilih lagi pada posisi yang kuat dan berpengaruh dalam masyarakat ini? Para guru juga merasa khawatir, khususnya guru yang tidak tetap. Ketakutan terjadi pada banyak hal dan banyak bentuk tetapi intinya hanya satu – yaitu ketakutan bahwa seseorang akan berpikir bahwa sekolah tak mampu membuat anak-anak maju. B.2.2. Gangguan Rasa Takut Ketakutan di sistem sekolah dapat mempengaruhi kegiatan rutin tetapi ada juga resikonya. Sekolah hanya akan memusatkan perhatian dengan mengedepankan image tersusun seperti dunia bisnis dibanding memecahkan problem learning dengan realistis dan efektif. Pertanyaan besar yang muncul cenderung menjadi: “Siapa yang harus disalahkan ketika prestasi anak rendah?” dan bukannya “Apa masalah-masalah learning si anak dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya?” Para guru akan lebih cenderung bicara dengan orang tua mereka secara diplomatis dibanding dengan terus terang. Akibatnya, para orang tua akan merasa ragu untuk mengakui kelemahan atau keterbatasan akademik anak mereka karena adanya ketakutan akan disalahkan akibat tidak mempersiapkan mereka dengan baik untuk sekolah. Ketika guru dan orang tua sama-sama terganggu oleh rasa takut mereka, problem learning anak akan tetap tidak terjamah. Yang paling menakutkan adalah ketakutan dalam sistem sekolah akan cen-derung mengakibatkan ketakutan dalam diri anak-anak. Berkaitan dengan lingkungan sekolah ini, seorang filsuf India Jiddu Krishnamurti menyatakan: “Bila anak-anak bebas dari rasa takut, para pendidik sendiri harusnya tidak dibelenggu oleh rasa takut, tetapi disinilah kesulitannya: menemukan guru yang mereka sendiri bukan merupakan mangsa dari rasa takut tersebut, seorang guru yang dibelenggu rasa takut tak akan dapat menjabarkan bagaimana berartinya hidup tanpa rasa takut. Seperti kebaikan, ketakutan merupakan hal yang mudah menjalar. Bila pendidik sendiri merasa takut, dia akan menularkan rasa takut ini pada murid-muridnya meski hasilnya tidak segera dapat dilihat”. Bila disederhanakan pengertiannya akan menjadi begini ; rasa takut dalam diri kita akan berkembang ke rasa takut pada diri orang lain. B.2.3. Belajar Membebaskan Diri Dari Rasa Takut Bila kita melihat bahwa rasa takut ada dalam sistem sekolah kita dan bahwa rasa takut tersebut adalah satu penghambat untuk belajar, pertanyaan yang muncul adalah Apa yang bisa kita lakukan untuk membebaskan diri dari rasa takut? Yang dibutuhkan oleh semua yang terlibat dalam pendidikan anak-anak adalah perubahan kesadaran. Yang dibutuhkan adalah realisasi bahwa lingkungan psikologis yang sehat, seseorang yang bebas dari rasa takut, adalah hal yang lebih kondusif bagi belajar yang nyata dibanding stress pada prestasi. Ketika segala sesuatu tampak, sekarang muncul kete-gangan yang berbahaya antara mental manusia dan kebutuhan emosional serta stress dari masyarakat Amerika yang terletak pada ambisi, persaingan, dan sukses. Yang di-butuhkan adalah kesadaran bahwa kematangan mental dan emosional adalah tujuan-tujuan dasar bagi pendidikan-lebih penting dibanding keahlian dalam semua disiplin akademis. Kami sekarang sampai pada kesimpulan bahwa penghambat terbesar pada kematangan adalah sesuatu yang ditekankan pada prestasi akademik yang menga-kibatkan timbulnya rasa takut dengan meminta anak untuk membuktikan nilai per-sonalnya. B.2.4. Belajar Self Acceptance Mungkin tindakan pendidik yang paling penting untuk menurunkan tingkat rasa takut dalam sistem sekolah kita adalah mengajar orang untuk menyukai dan menerima diri mereka sendiri. Satu cara untuk menumbuhkan self-acceptance adalah membantu orang mengambil sikap realistis menyangkut keterbatasan mereka. Satu self-concept terbaik yang bisa diciptakan dalam “satu lingkungan dimana kesalahan dan kekurang-an adalah sesuatu yang nyata tapi tidak merusak; dimana mereka diperlakukan sebagai sesuatu yang tumbuh diatas dibanding sebagai sesuatu yang berakar” Bagaimana perubahan kesadaran ini mempengaruhi sistem sekolah kita? Dalam kondisi seperti itu para orang tua akan mencari cara untuk menemukan kekuatan dan kelemahan anak-anak mereka, potensi dan keterbatasannya, serta apa yang disukai dan tidak disukai. Tujuannya bukan untuk menemukan kesalahan para pejabat sekolah tetapi memotivasi kelebihan anak dan mengatasi kelemahannya. Dewan dan adminis-trasi sekolah akan berupaya untuk menciptakan suasana dimana guru akan merasa be-bas untuk bereksperimen dengan materi dan metode yang dirancang untuk membuat bebas sebagai pengalaman yang menyenangkan dibanding pertarungan untuk melapis satu massa informasi segera sebelum tes prestasi diadakan. B.2.5. Apa Yang Bisa Dilakukan Guru ? Akhirnya tugas membebaskan sekolah dan anak-anak kita dari ketakutan ber-gantung pada guru individu. Bagaimana tugas ini dilaksanakan? Krishnamurti mena-warkan usulan radikal: “Seandainya seorang guru takut pada pendapat publik; dia melihat “absurditas” dari ketakutannya hingga dia atak bisa melampauinya. Lalu apa yang dia lakukan? Dia sekurangnya harus mengetahuinya untuk dirinya sendiri dan dapat membantu muridnya memahami rasa takut dengan menunjukkan reaksi psi-kologisnya dan secara terbuka membicarakannya denagn mereka. Pendekatan yang jujur dan tulus ini akan memotivasi murid untuk juga terbuka dengan diri mereka dan dengan guru mereka”. Bila pendekatan ini terlampau ekstrim, guru dapat menciptakan situasi terape-utis dalam ruang kelas mereka. Melalui role-playing, anak-anak dapat belajar ber-tindak mengatasi rasa takut mereka dan sampai pada pemahaman yang lebih baik menyangkut hal itu. Dalam menciptakan suasana seperti itu para guru sendiri nantinya akan memahami bahwa nilai-nilai humanistik tak dapat diwujudkan keberadaannya melalui aturan dan hukuman. B.2.6. Membangun Kepercayaan Apakah para orang-tua di Amerika salah bila mengharap hasil-hasil yang baik dari sekolah? Tidak, meski juga mereka tetap salah menyangkut hasil yang mereka harapkan. Overstreet menulis: “Yang lebih dibutuhkan anak-anak, untuk kebaikan mereka dan kebaikan masyarakat, adalah hak untuk tumbuh dengan orang tua dan guru yang hubungan interpersonalnya tidak terdistorsi oleh rasa takut. Ketika kesa-daran ini tumbuh, kita melihat bahwa tiap pengaruh yang membantu pertumbuhan pada pengalaman orang dewasa yang lebih bahagia adalah pengaruh dari pendidikan anak dan kesejahteraan anak. Kurikulum yang spesifik apakah yang berupa “sosi-alisasi” dirumah atau pelatihan di ruang kelas bersifat insidental dibanding dengan semua permasalahan penting dalam membantu anak menumbuhkan kepercayaan pada diri mereka dan belajar menyukai hidup: dimana mereka tak pernah dapat melaku-kannya kecuali ketika anak-anak dewasa disekelilingnya membuatnya mungkin untuk dilakukan”. Formula untuk mengajarkan rasa takut sebenarnya sederhana – ciptakan sua-sana dimana prestasi dihargai lebih dari nilai-nilai pribadi, dimana kesalahan lebih la-zim dibanding pemahaman, dan dimana pendapat orang lain lebih penting dari pen-dapat kita sendiri. Formula untuk mengajar self-acceptance juga sederhana – ciptakan suasana dimana kebebasan dihargai lebih dari kekuatan, dimana evaluasi realistis lebih lazim dibanding sebab kesalahan, dan dimana kematangan psikologis lebih penting dari sifat suka menonjolkan diri. Dari pendidikan ini orang tua akan lebih beralasan untuk mengharap anak-anak mereka bisa terbebas dari rasa takut. B.2.7. Psikoanalisis Dan Masa Depan Pendidikan Goodwin Watson Beranikah kita mengambil loncatan Freudian? Bagaimana bila kita tidak mampu? Tantangan yang diberikan Watson pada tahun 1957 masih segar dalam ingatan kita saat ini. Ketika beberapa idenya telah dicoba, banyak dari konsep-konsepnya yang belum diadopsi dengan skala yang luas. Berapa banyak dari guru-guru kita mempunyai petun-juk tentang bagaimana mengembangkan hubungan dengan murid-mu-rid kita dan berapa sering kita melihat ini sebagai prasyarat penting untuk mendidik mereka? Bisakah kita menggunakan ekspresi simbolik dan artistik untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa dipikirkan se-cara eksplisit melalui kata-kata yang tepat? Apakah kita takut untuk menghubungkan ajaran verbal kita pada proses ketidak-sadaran yang ada dibelakangnya? Ini agak mengancam para guru, para psikolog ke-pendidikan, dan para peneliti untuk membatasi didi mereka pada peri-laku eksternal yang bisa diteliti. Tetapi apakah sikap ini menjaga kita agar tidak berhadapan dengan kekuatan yang lebih kuat dari psikologi internal dan menjag kita dari upaya mengembangkan pendidikan yang juga meliputi internal sekaligus eksternal? Sangat mengejutkan bahwa disiplin dari psikoanalisis, yang selama lebih dari setengah abad telah menunjukkan begitu banyak dinamika kehidupan anak, hanya sedikit mempunyai akibat langsung pada pendidikan. Dua buku menyangkut psikologi pendidikan ada dimeja saya ketika saya menulis artikel ini. Pada bagian indeks salah satu buku, yang ditulis oleh seorang professor sebuah perguruan tinggi terkenal, tak ada istilah “psikoanalisis” atau “Freud” tercantum didalamnya. Dari sekitar 700 ha-laman, hanya 4 halaman yang menjelaskan teori psikoanalisa. Ini disimpulkan dengan kalimat berikut : “Banyak orang memberontak, sebagai misal, ketika diminta untuk percaya seorang anak mempunyai kehidupan seksual rumit; bahwa tiap-tiap keinginan kita mempunyai dorongan dan intelegensinya masing-masing; bahwa ide-ide yang ada terletak dalam sebuah sub-conscious”. Pengaruh Freud telah terserap dalam pendidikan guru dengan tidak langsung. Resistansi telah diturunkan oleh dilusi. Satu studi yang dilakukan penulis menyangkut textbook dalam psikologi pendidikan yang dipublikasikan selama dekade 1920-1929 menunjukkan rata-rata hanya 4 halaman yang menjelaskan beberapa jenis faktor ketaksadaran dalam motivasi; Para guru yang menggunakan teks tahun 1956 tersebut, yang tidak merujuk pada Freud akan diajarkan sesuatu menyangkut “rasionalisasi”, “displaced hostility”, “self-punishment”, “represi”, “proyeksi”, “regresi”, “fantasi”, dan “compulsiveness”. Para guru tidak diragukan lagi telah didesak untuk mempela-jari sebab-sebab perilaku yang terganggu secara emosional tetapi hanya sedikit dari mereka yang diberikan perangkat dan pelatihan yang memadai. Menarik untuk membuat prediksi saat ini bahwa penghalang-penghalang ter-sebut pada akhirnya memberi jalan dan bahwa pendidikan ada diambang asimilasi yang cepat dari tinjauan esensial psikoanalisis. Tetapi realisme yang begitu teliti diolah dalam pelatihan psikoanalisis membuat kita ragu. Dalam tinjauan yang dibuat baru-baru ini menyangkut hubungan psikoanalisis dengan ilmu-ilmu sosial kami me-nemukan satu observasi bahwa, ketika sekarang ini dirasa “fashionable” untuk me-masukkan nama Freud sebagai jenius yang memberi tinjauan fundamental dan sig-nifikan tersebut, seseorang bisa menemukan bahwa dalam karya seorang psikolog sosial hanya sedikit perhatian yang diberikan pada formulasi psikoanalitis. Dalam studi pendidikan Freud dipuji sebagai lebih bebas dibanding dulunya tetapi hanya sedikit dari konsep psikoanalisa yang bisa digunakan untuk memandu praktek dan mengadakan riset. Teknik deferensi verbal pengganti untuk penerimaan ini tidak di-kenal oleh para pengamat yang mempunyai orientasi psikoanalitis. B.2.8. Konsepsi Konflik Dalam Belajar Sebagian besar teori belajar akademik sekarang telah disisihkan. Satu tinjauan populer dari pikiran sebagai tablet kosong dimana pengalaman diukir masih bertahan. Seorang anak masih dipandang oleh banyak orang tua dan beberapa penyusun kuri-kulum sebagai wadah yang kurang lebih pasif bagi satu permasalahan. Teori-teori yang lebih ilmiah menyangkut pengkondisian dan respon stimulus masih memandang learning sebagai satu konformitas yang hampir tidak tertahan se-panjang jalur yang bisa ditentukan dengan mudah, dengan energi yang datang dari luar sistem. Benar bahwa Thorndike telah membuat formulasi hukum “kesiapan” te-tapi ini hanya merujuk pada kesiapan dari satu hubungan neural tertentu (sebagai contoh, myelinisasi yang memadai; bukan dalam fase refractory) atau satu “rangkai-an” pengharapan, dibanding pada hal-hala yang menentukan kepribadian sentral. Bah-kan teori Gestalt, ketika memasuki pelajar dengan persepsi yang jauh lebih kompleks serta struktur kognitifnya, gagal untuk mencapai interpretasi yang dinamis. Diluar terapi psikoanalitik ada satu tinjauan yang bisa diharapkan untuk mem-bawa kenyamanan sekaligus panduan pada guru-guru. Salah satu penemuan pertama Freud adalah bahwa neurotik yang ingin mencapai kondisi yang lebih baik masih mencoba menentang upaya yang dilakukan untuk menolongnya. Anak-anak yang cu-kup normal, remaja, dewasa juga mengalami learning sebagai konflik antara keingin-an untuk bertahan pada beberapa cara yang kurang lebih memuaskan dimasa lalu dan satu kebutuhan untuk memenuhi tuntutan yang mengganggu dimasa kini. Ketika para pendidik telah mengembangkan teori learning yang memperhitungkan resistansi, pe-dagogi yang lebih dinamis dan mendalampun bisa timbul. Satu pertempuran yang menarik dalam prospeknya antara mereka yang menga-jarkan “pendidikan progresif” yang berpendapat bahwa semua learning telah dibuat dalam cara yang menyenangkan dan mereka yang bahkan lebih progresif – yang men-dekati tinjauan Dewey- yang mencapai satu sudut pandang psikoanalitik menyangkut harga satu sistem kompleks pada penyesuaian dan penyusunan ulang yang sedang berlangsung. Satu hal yang bisa didapatkan disini adalah pengenalan dengan lebih je-las bahwa resistansi pada learning tidak menyiratkan kebodohan atau titik-titik yang bisa diperbaiki. B.2.9. Penggunaan Intra Group Feeling Perkembangan praktek psikoanalitis pada kelompok-kelompok besar telah me-ningkatkan perhatian pada hubungan anggota-anggota sebagai sumber dari belajar dan terapi yang konstruktif. Ketika psikoanalisa berkaitan hanya dengan kemajuan satu pasien dalam hubungannya dengan ahli terapi, guru yang berupaya mengaplikasikan wawasan psikoanalitis menemukan diri mereka hanya berpikir menyangkut pertemu-an diluar kelas dengan satu orang murid atau orang tua. Dalam kelompok psikoterapi, kasih sayang, kecemburuan, kecurigaan, dan serangan-serangan lain yang agresif dari satu anggota ke anggota lain adalah subyek perhatian yang prinsip.

Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s