Psikoanalisa

Psikoanalisis

Kelompok psikologi ini sering disebut psikologi dalam, ia mencari sebab-sebab perilaku manusida pada dinamika jauh di dalam dirinya, yaitu pada alam tak sadarnya. Ketika pasiennya menunjukkan masalah-masalah fisik tanpa ada sebab-sebab fisik yang diketahui, Freud kemudian menghipnotisnya untuk menghilangkan gejala his-terisnya. Menurut Josef Breuer temannya, yang melaporkan bahwa dalam hipnotis pasien dapat mengingat dan memahami pengalaman emosional yang menjadi penye-bab gejala. Berdua mereka kemudian menggunakan hipnotis untuk menangkap kem-bali memori yang terlupakan, namun tidak semuanya berhasil, lagi pula sebagian pasien sulit dihipnotis dan dampak positif hipnotis tidak berlangsung lama, akhirnya metode ini ditingalkan.

Menurut psikoanalisis, semua perilaku manusia, baik yang nampak (ge-rakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) disebabkan oleh pristiwa men-tal sebelumnya. Ada peristiwa mental yang kita sadari, ada yang tidak , tetapi mudah kita akses (preconscious), dan ada yang sulit kita bawa kealam sadar (unconsscious), dan yang terakhir ini yang menjadi perhatian psikoanalisis. Dalam alam tak sadar inilah terdapat dua struktur mental yang merupakan bagian terbesar dari gunung es (di bawah laut) kepribadian kita, yaitu Id merupaka reservoir energi psikis yang hanya memikirkan kesenangan, dan Super Ego merupakan reservoir kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya. Di puncak gunung es (diper-mukaan laut) ada Ego yang berfungsi sebagai pengawas realita. Apa yang dilakukan individu adalah hasil interaksi (atau konflik) antara ketiga struktur mental tersebut.

Sesuai dengan perkembangan kepribadian kita pada masa kanak-kanak, kita dikendalikan sepenuhnya oleh Id. Pada tahap ini berlaku proses berfikir yang disebut Freud sebagai primary process thinking, berfikir proses pertama. Anak tidak dapat membedakan antara yang nyata dan tidak nyata, antara aku dan bukan aku, dan tak mampu menekan impuls. Dia ingin memenuhi keinginannya waktu itu juga. Jika tidak dapat memuaskan kebutuhannya dia tidak mampu menangguhkannya sampai nanti, tetapi berusaha menggantinya. Jika bayi tidak memperoleh botol susunya ia akan menghisap ibu jarinya.

Pada remaja dan orang dewasa, ego sudah berkembang, mereka mengikuti ber-fikir proses kedua secondary process thinking. Manusia sudah belajar menangguhkan pemuasan keinginannya untuk sesuatu yang lebih bagus, menghindari makan enak un-tuk bisa menabung. Seorang dewasa tidak begitu saja mengganti pemuas kebutuh-annya karena tak dapat memenuhi kebutuhan awalnya, walaupun begitu ada orang dewasa sesekali muncul berfikir proses pertama, ketika di kantor bos anda memarahi anda, anda pulang memarahi anak anda, bos anda digantikan anak anda. Jika pola berfikir anak-anak ini menguasai seorang dewasa, terjadilah perilaku abnormal.

Jika ada berfikir proses pertama dan kedua, adakah proses ketiga ?, karena psikoanalisis dalam melacak abnormalitas pada proses primer yang mendominasi orang dewasa. Psikoanalisis mampu menjelaskan penyakit psikis akibat luka lama da-ri masa kecil kita, tetapi bisu ketika berhadapan dengan derita karena kekosongan ek-sistensial,  karena kebingungan dalam memberikan makna. Ia sangat trampil dalam menganalisis konflik di antara daya-daya psikis , antara impuls dengan pertahanan, jiwa dengan tubuh, maturasi dengan regresi, id dengan super ego, sek dengan agresi. ia hanya melihat jiwa sebagai pekerja keras untuk menyembuhkan luka-luka akibat konflik itu. Tujuan psikoanalisis adalah mengurangi derita neurotis menjadi ketidak-bahagiaan biasa.

Carl Gustav Jung (murid Freud) tidak setuju dengan Freud yang terlalu berle-bihan dalam penekanan masalah seksualitas. Ketidaksadaran bukan hanya terdiri atas komponen instingtual, tetapi juga spiritual. Jiwa kita tidak hanya mengandung keti-daksadaran personal, himpunan pengalaman dalam kehidupan kita, tetapi juga keti-daksadaran kolektif, simpanan pengalaman yang dihimpun oleh nenek moyang kita selama jutaan tahun, sejarah tak tertulis dari kemanusiaan sepanjang masa. Psikologi terlalu rendah jika hanya bertujuan mengurangi neurosis, psikologi harus membantu manusia untuk menyambungkan dirinya dengan kedua alam tak sadar ini. Jung me-nyebut individuation sebagai pengintegrasian ketidak sadaran kolektif dalam kesa-daran individu.

Ketidaksadaran kolektif mengandung arketipe di dalamnya, atau bentuk uni-versal yang membentuk jiwa dan mengorganisasikan pengalaman psikologis. Contoh arketipe antara lain : anak tuhan, bidadari, tukang sihir, ksatria, raja, ratu, orang bijak dsb. Kesehatan psikologis adalah kemampuan untuk membiarkan arketipe ini memasuki kita, memberikan bentuk pada pengalaman psikologis kita dengan mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psi-kologis timbul karena hanya mampu mengidentifikasi beberapa arketipe sehingga membatasi  jati diri dan perasaan. Misalnya jika jati diri seseorang adalah memainkan lakon tuan yang galak di tempat kerja dan dia tidak dapat memasukan arketipe lainnya ke dalam pengalam-annya ketika dia pulang. Ketika ia hanya memainkan lakon tuan yang galak ketika ia bermain dengan anak atau istrinya, kehidupannya akan terbatasi.

Kekayaan pengalaman dari  perasaan, kreativitas, dan spontanitas kehidupan tidak dapat mengalir ke dalam dirinya. Makna utamanya adalah membuka diri pada arketipe yang lain atau energi universal dan membiarkan energi ini mengisi penga-laman kita. Pusat arketipe jiwa adalah the self (diri). The self digambarkan sebagai mandala yang merupakan citra the self, arketipe pusat. Jung percaya bahwa kita tidak dapat secara langsung mengalami the self, tetapi ia harus diketahui secara tidak langsung. Kita mendapat bimbingan dan pengarahan darinya melalui simbol mimpi dan citra. Citra yang menggambarkan the self berubah ketika orang bergerak menuju arah yang baru. The self itu sendiri tetap sama, tetapi gambaran the self  berubah dan perlu diperbarui secara periodik.

Menurut Jung, ego berkembang pada paro pertama kehidupan dan difokuskan pada dunia dan tindakan melakukan sesuatu, menjalankan, membentuk ego indepen-den, dan mencapai kemampuan tertentu di dunia. Akan tetapi pada usia 35 sampai 45 tahun atau lebih tua, pada paro baya, ego yang dewasa mulai menderita perasaan kete-rasingan dan kehilangan makna. Ia mulai menengok ke dalam. Separo kehidupan ke-dua ditandai dengan memusatkan perhatian pada kehidupan batiniah dan memuncul-kan apa-apa yang belum dikembangkan pada paro kehidupan yang pertama. Misalnya, jika bagian jiwa yang aktif bersifat maskulin “berbuat” (doing) dominan pada paro pertama, sisi jiwa yang feminin “mengada” (being) akan menjadi lebih dominan pada paro yang kedua. Apabila orang tidak mau mendengarkan gerakan batiniah ini dia akan mengalami derita psikis yang makin berat, kekosongan dan alienasi.

Pembagian kehidupan manusia pada dua paro sebagai mana tersebut di atas dapat dilihat pula lewat tahapan berikut ; Tahap pertama preegoic, adalah masa pra oedipus, ketika ego yang lemah dan belum berkembang dikuasai oleh ketidaksadaran kolektif. Tahap kedua, pada pagi hari kehidupan, ego yang mendewasa melepaskan diri darinya. Pada tahap ketiga, pada sore hari kehidupan, ego yang kuat dan dewasa diserahkan dan disatukan kembali dengan ketidaksadaran kolektif, di sini manusia menempuh perjalanan panjang menuju kedalaman ruhnya. Inilah kehidupan spiritual.

Kehidupan spiritual adalah kehidupan yang ditempuh mengikut sebuah cita-cita saat orang dengan tabah memilih jalan hidupnya, menuntut kehidupan yang melintasi konvesi-konvesi sosial, moral, religius, politis dan filosofis. Anak-anak sejati Tuhan adalah dia yang berani melanggar konvesi dan mengambil jalan curam dan sempit menuju dunia yang tak diketahui. Kehidupan seperti itu menurut Jung disebut “voca-tion” berpisah dengan kelompok dan mengorbankan diri untuk memenuhi panggilan. Individu dipanggil untuk mengikuti bintangnya, untuk menaati hukumnya, untuk mendengarkan bisikan dari ruhnya yang terdalam. Jika manusia tidak mau mende-ngarkan suara batinnya, dia mengalami neurosis. Dia akan terhambat dalam perkem-bangan kesadarannya. Di tangan Jung, alam tak sadar Freud yang instingtif-seksual berubah menjadi reservoir energi spiritual. Tidak heran ketika Freud meminta Jung berhenti bicara tentang spiritual, ia menolaknya, Jung kemudian dikucilkan dari ko-muniktas psikoanalisis.

Perbantahan ini tergambarkan ketika mereka memperbincangkan masalah para psikologi, Jung menjelaskan gejala psikologis dengan mengakui keberadaan ruh. Freud membantahnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam lemari buku. Kata Jung suara keras itu mendukung pembicaraan topik parapsikologi mereka, dia me-ramalkan bahwa suara itu akan terdengar lagi, Freud tetap membantah, dan memang suara itu terdengar lagi. Tak lama setelah itu Freud menulis surat kepada Jung bahwa pengalaman spirituil itu tidak penting. Jung tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan lahirlah konsep sinkronisiti (kebetulan yang berarti) yang menunjukkan hubungan jiwa manusia dengan peristiwa psikis. Suara keras dari lemari adalah manifestasi ar-ketipe dari ketidaksadaran kolektif, adalah tugas kita untuk memperhatikan simbol-simbol itu dan mempergunakannya untuk membimbing kehidupan kita.

Menjelang kelahiran psikologi tranpersonal, Jung menjadi semakin populer, tetapi sebelum sampai ke psikologi transpersonal, psikologi Jungian harus melewati dahulu sentuhan psikologi humanities.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s