konseling lifeskills * che_nal

Konseling lifeskills adalah pendekatan terpusat pada manusia (people-centred approach) untuk membantu klien dan orang lain mengembangkan kemampuan membantu diri sendiri (self-help).

Konseling lifeskills mengasumsikan kalau semua orang telah mendapatkan dan memelihara kekuatan dan kelemahan lifeskills. Perasaan, pikiran dan tindakan orang-orang yang tidak efektif menunjukkan satu atau lebih kelemahan lifeskills dan bukan suatu penyakit. Konselor lifeskills bekerjasama dengan klien mendeteksi kelemahan lifeskills yang menyebabkan kesulitan dan kemudian, dalam hubungan yang memberi dukungan, mendidik mereka dengan kemampuan membantu diri sendiri yang relevan.

beberapa kekhawatiran umum yang diungkapkan kepada konselor.

  • “Pernikahan kami sepertinya sedang menuju kehancuran.”
  • “Saya merasa tertekan dan apatis.”
  • “Saya merasa kesulitan membuat keputusan mengenai karier saya.”
  • “Saya menjadi sangat tegang dan gelisah menghadapi ujian.”
  • “Saya mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya.”
  • “Saya merasa kesepian dan kesulitan mendapatkan teman.”
  • “Saya sering sekali marah-marah.”
  • “Hidup saya sepertinya tidak punya tujuan.”
  • “Saya merasa kesulitan membela diri saya sendiri.”
  • “Saya merasa sangat tertekan dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya.”
  • “Saya merasa bersalah sebagai ibu dan mengejar karier.”
  • “Kehidupan seks kami tidak bergairah.”
  • “Saya tidak bisa melepaskan diri dari belenggu yang dipasang orangtua saya.”

Tujuan konseling lifeskills menekankan pada membantu orang untuk membantu dirinya sendiri. Tujuan dari semua pertemuan konseling, walaupun singkat, tidak hanya membantu klien merasa lebih baik atau mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan lebih baik. Tetapi konselor lifeskills juga bertujuan membantu klien menerapkan beberapa kemampuan untuk hidup

Bahasa

Karena tujuan konseling lifeskills adalah menolong diri sendiri untuk kesempatan berikutnya, maka bahasa konseling harus bisa membuat klien mengajari diri sendiri. Dalam semua kontak konseling, setidaknya ada empat kemungkinan bahasa operatif: percakapan di dalam diri dan di luar diri konselor dan klien (Nelson-Jones, 1986). Konseling lifeskills didasarkan pada kerangka kerja teoritis edukasi bahwa konselor dapat menggunakan baik percakapan dalam diri atau percakapan dengan diri sendiri (inner speech) dan luar diri (outer speech) mereka. Konselor tidak harus berbicara dengan satu bahasa kepada diri sendiri dan bahasa lain kepada klien. Konselor lifeskills memakai percakapan luar mereka sendiri dan percakapan luar klien untuk mengembangkan percakapan dalam diri klien sehingga mereka dapat memahami masalah mereka dan menginstruksi diri sendiri melalui rangkaian pilihan untuk mengatasinya.

Gambar 1.1 memberi ilustrasi percakapan publik dan personal dalam konseling dan training lifeskills. Banyak konseling dan training tidak efisien dari segi pendidikan. Itu memfokuskan pada gerakan di balik percakapan publik konselor dan klien pada B dan C. Dalam konseling lifeskills, konselor dan pemimpin kelompok menggunakan percakapan pada B dan C bukan hanya untuk mengembangkan hubungan yang membantu, tetapi juga secara aktif bekerja dari percakapan personal pada diri sendiri oleh konselor di A untuk mempengaruhi percakapan personal diri pada sendiri oleh klien di D. Dengan berkomunikasi dari kerangka kerja pendidikan yang diungkapkan dalam bahasa yang relatif sederhana, konselor dan pemimpin kelompok dapat membantu klien melakukan percakapan personal pada diri sendiri untuk memonitor, memelihara dan mengembangkan kemampuan. Jadi bahasa dalam konseling lifeskills menjadi bahasa people-centred dari membantu diri sendiri dan instruksi pada diri sendiri.

Kontak konseling

Konselor                                                                      Klien

Personal                             Publik                           Publik                         Personal

A                                   B                                     C                                     D

Gambar 1.1 Percakapan publik dan personal dalam konseling dan training lifeskills

Klien

Pendekatan lifeskills membutuhkan pembelajaran dan pemeliharaan kesehatan psikologis, dan bukannya gangguan psikologis, sebagai titik awalnya. Konseling lifeskills adalah people-centred sehingga semua orang bisa mendapat manfaat pada tingkat tertentu dalam hidup mereka dari kontak mereka dengan konselor yang terampil.

Masalah dan potensi

Konseling lifeskills tidak hanya memfokuskan pada membantu orang mengatasi masalah mereka, tetapi juga memfokuskan pada pembebasan potensi mereka. Konseling lifeskills adalah menggunakan people-centred yang memfokuskan pada rentang kompetensi yang dibutuhkan semua yang orang untuk kelangsungan, kelestarian dan peningkatan hidup mereka. Itu adalah pendekatan persamaan (egalitarian) yang mengasumsikan bahwa setiap orang, tanpa menghiraukan usia, jenis kelamin, ras, warna kulit atau keyakinan mereka, mempunyai “potensi untuk berkembang dan hak untuk memaksimalisasi kompetensi personal” (Albee, 1984, hlm.230). Masalah-masalah yang mengharuskan orang-orang memiliki perasaan, pikiran dan tindakan yang adaptif untuk memaksimalkan potensi mereka dapat terjadi pada semua umur dan di semua bidang kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s