Humanistik* Che_nal

Psikologi Humanistik

Aliran psikologi humanistik ini muncul sebagai reaksi terhadap behavioristik dan psikoanalisis, keduanya dianggap telah mereduksi manusia sebagai mesin atau makhluk yang rendah. Psikoanalisis berkutat pada insting-insting hewani dan mema-hami manusia dari perilaku pasien. Maslow, salah seorang perintis kelompok ini me-ngatakan bahwa “Dengan sedikit menyederhanakan, kita dapat menyatakan bahwa Freud seakan-akan memasok kita separo psikologi yang sakit, dan sekarang kita harus mengisinya dengan paro lainnya yang sehat”.

Selain itu meneliti manusia-manusia yang sakit, tidaklah lebih berguna me-ngumpulkan keterangan mengapa orang itu sehat, bagaimana orang dapat tetap hidup bahagia di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya. Dalam kehidupan, kita me-nemukan orang yang bahagia dalam situasi dan kondisi tertentu, juga orang yang ba-hagia dalam kondisi apapun.

Kita simak pengalaman seorang tahanan kamp konsentrasi Nazi yang menge-rikan. Setiap hari ia menyaksikan tindakan kejam, penyiksaan, pembunuhan masal di kamar gas atau eksekusi dengan aliran listrik. Pada saat yang sama, dia juga menyak-sikan peristiwa-peristiwa yang sangat mengharukan ; berkorban untuk rekan, kesa-baran yang luar biasa, dan daya hidup yang luar biasa. Selain para tahanan yang ber-putus asa mengeluh “mengapa semua ini terjadi padaku ?, mengapa aku harus me-nanggung derita ini ?, ada juga para tahanan yang berfikir  “apa yang harus saya laku-kan dalam situasi yang mencekam seperti ini ?”.

Hal yang membedakan keduanya adalah pemberian makna, pada manusia ada kebebasan yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh pagar kawat berduri sekalipun, itu adalah kebebasan untuk memilih makna. Sambil meminjam pemikiran Freud ten-tang efek berbahaya dari represi dan analisis mimpinya., Frankl menentang Freud ketika ia menganggap dimensi spiritual manusia sebagai sublimasi dan insting hewa-ni. Sambil memuji Jung karena mengungkap keberagaman tak sadar, ia mengkritik Jung karena psikologismenya. dengan landasan fenomenologis Frankl membantah ke-duanya yang menjelaskan perilaku manusia sebagai akibat dari proses psikis saja. baginya pemberian makna berada di luar semua proses psikologis, dia mengembang-kan teknik psikoterapi yang disebut logoterapi.

Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi : fisik, psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan pada aga-ma, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikologis. Kedokteran termasuk psikoterapi, telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sum-ber kesehatan dan kebahagiaan. Tanpa memperhitungkan dimensi spiritual, kita akan melihat si Anu sebagai penderita epilepsi dan si Anu lain sebagai skizopren.

Dimensi spiritual disebut Frankl sebagai noos, yang mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan kita untuk memberi makna orientasi tujuan kita, kreativitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar mencintai yang visio-psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali super ego, selera humor kita. Di da-lamnya juga terkandung pembebasan diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transenden diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spirit, kita tidak dipandu, kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Reservoir kesehatan ada pada setiap orang, apapun agama dan keyakinannya. Kebanyakan dari reservoir ini terdapat di alam tak-sadar kita, adalah tugas seorang logoterapis untuk menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini.

Terkait dengan logoterapi ; ada  lima cerita yang menggambarkan situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah hidup kita, menyusun hidup kita yang porak poranda. Pertama, kita temukan ketika kita menemukan diri kita ; Amin seorang guru pernah kehilangan sepatunya di Masjid. Ketika ia sedang bersungut-sungut meledakan kejengkelannya, ia melihat seorang penceramah yang berbicara dengan senyum ceria, tampak dalam perhatiannya bahwa penceramah itu tak mempunyai kaki. Tiba-tiba ia disadarkan, segala kejengkelannya mencair. Dia sedih kehilangan (hanya) sepatu, padahal ada orang yang tertawa ria walaupun kehilangan kedua kakinya. Kedua, makna muncul ketika kita menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika kita terjebak dalam suatu keadaan – ketika kita tidak dapat memilih. Seorang ekse-kutif pindah dari Bandung ke Jakarta, dia mendapat posisi yang sangat baik dan gaji sangat melimpah, tetapi dia kehilangan waktu untuk bercengkerama de-ngan keluarga dan anak-anaknya. Dia ingin mempertahankan jabatannya dan ingin mempunyai wak-tu lebih banyak untuk keluarga. Pada suatu hari dia berdiri didepan rapat pimpinan dan menyatakan mengundurkan diri. Saat itu dia merasakan kebaha-giaan mene-mukan kembali makna hidupnya. Ketiga, makna ditemukan ketika kita merasa isti-mewa, unik, dan tak tergantikan orang lain. “Saya senang bersama cucu saya”, kata seorang nenek. “Cucu saya mengatakan ‘ikuti aku nek’ dan saya menuruti semua ke-mauannya. Tak ada seorangpun yang dapat melakukan itu baginya. Ibunya juga tidak karena terlalu sibuk.

Seorang mahasiswa  merasa sangat bahagia ketika Presiden menanyakan panda-patnya. “Bayangkan, seorang presiden menanyakan pendapatku”. Untuk mendapatkan pengalaman seperti itu, kita tidak selalu (harus) memerlukan presiden, carilah orang yang mendengarkan kita dengan penuh perhatian, kita akan merasa hidup kita ber-makna. Keempat, makna membersit dalam tanggung jawab. Seseorang berkisah tentang seorang pemuda yang diminta menjaga barang sahabatnya, tiba-tiba ada se-seorang yang menawar barang tersebut dengan harga yang sangat mahal. Terpikir olehnya untuk menjual barang tersebut untuk memperoleh banyak uang, toh bisa dibuat alasan bahwa barang tersebut dicuri orang, tetapi begitu pemuda tadi akan memberikan barang tersebut ke pembeli yang menawar tadi, ia merasa ada sengatan keras di jantungnya. Ketika kemudian ada telepon dari calon pembeli tadi, dijawab oleh si pemuda bahwa barang tadi tidak jadi di jual. Setelah itu si pemuda mengalami perasaan bahagia yang amat sangat sepanjang hidupnya. Kelima, makna mencuat dalam suasana transendensi, gabungan dari keempat di atas. Ketika mentransen-denkan diri kita, kita melihat seberkas diri kita yang autentik, kita  membuat pilihan, kita merasa istimewa, kita bertanggung jawab. Transendensi adalah pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar pengalaman kita yang biasa, ke luar suka dan duka kita, ke luar diri kita yang sekarang, ke konteks yang lebih luas.

Kita akhirnya dihadapkan pada makna akhir “ultimate meaning”, yang menya-darkan kita akan aturan agung yang mengatur alam semesta, kita menjadi bagian penting dalam aturan ini, apa yang kita lakuka mengikuti rancangan besar, yang di-tampakkan kepada kita. Tidak menjadi soal apakah ia berasal dari kesadaran kolektif Jung atau dimensi spiritual Frankl. Pada posisi ini aliran psikologi dengan cepat meloncat ke psikologi tanspersonal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s