BehavioristiK_che_nal.

B.1.  BEHAVIORISTIK (Behavioral Psychology)

Psikologi pendidikan behavioral adalah psikologi pendidikan yang utama di Ame-rika saat ini. Bahkan, ketika mereka bicara tentang spesialisasinya, profesor “psiko-logi pendidikan” biasanya menghilangkan kata “behavioral”. Behaviorisme hampir menjadi psikologi akademik. Para behaviorist, dalam hal ini, berusaha mengamankan posisinya dengan mengumumkan terbentuknya psikologi pendidikan secara resmi. Seperti gereja resmi di berbagai negara, mereka mempunyai hak untuk praktek dan mendapat dukungan dana dan politik. Politik ini disukseskan oleh sekte behavioral dari para psikolog pendidikan yang menjadi bukti adanya adopsi dari sasaran beha-vioral dalam program yang didasarkan pada “kompetensi”.

Ada  dua prinsip yang membantu dalam upaya untuk memahami bagaimana psi-kologi behavioral berguna dalam praktek pendidikan: 1) Orang belajar apa yang pantas untuk dipelajari; 2) Ketahuilah dengan jelas tentang apa yang anda pelajari. Seperti Law of Motion-nya Newton, mereka sederhana dalam prinsip tetapi kompleks dalam aplikasinya.

B.1.1.  Kemurnian (Clarity)

Bila ada satu kemampuan yang membedakan kita dari hewan, itu adalah ke-mampuan kita untuk berpikir. Keinginan para behaviorist pada clarity akan menyang-kut pada kemampuan manusia tersebut, dan cara behaviorist berpikir tentang learning membantu kita untuk membuat lebih jelas tentang tujuan-tujuan pendidikan, sukses yang terkait dengan berbagai aktivitas ruang kelas yang berbeda, dan penilaian kita terhadap aktivitas tersebut. Berpikir secara jelas menyangkut apa yang kita kerjakan adalah bagian integral dalam melakukannya. Lagipula, bila kita akan mengajar, maka kita membutuhkan satu ide jelas tentang apa yang akan kita ajarkan. Kita juga perlu untuk mengetahui seberapa berhasil kita dalam mengembangkan atau memilih latihan baru dalam ruang kelas. Semakin akurat kita menilai apa yang telah dipelajari oleh murid, semakin akurat kita dapat mengembangkan pengajaran kita. Kita dapat menga-takan apakah kita telah melakukan hal yang benar dengan melihat hasil apa yang telah kita lakukan.

Inilah tujuan behavioral, membuat kita melihat hasil apa yang kita lakukan. Apa-kah seseorang menyebutnya instructional objectives, behavioral objectives, perfor-mance criteria, atau istilah-istilah lain, hal yang paling utama adalah dengan me-ngetahui secara jelas apa yang kita ajarkan, dan agar kita bisa melihat secara jelas adalah dengan melihat hasil yang kita lakukan. Kata “visible objectives” (tujuan yang tampak) mencakup hampir semua dari arti “behavioral objectives” dan relasi kog-nisinya. Untuk mengetahui apa yang telah kita lakukan, kita harus melihat hasilnya, dan karena kita berminat untuk mengajarkan sesuatu pada siswa, maka kita harus melihat visible behavior dari siswa, jadi, visible objectives selalu tertulis dalam istilah apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang diajarkan guru di kelas. Setelah visible objective ditulis maka guru merencanakan pola pengajarannya dikelas hingga siswa bisa mencapai tujuannya. Dengan demikian, menulis rencana pelajaran dilakukan se-telah menyatakan visible objectives.

B.1.2. Reinforcement

Ide utama dalam psikologi behavioral yang diaplikasikan pada pendidikan adalah yang berkaitan dengan reinforcement. Reinforcement adalah konsekuensi dari tin-dakan yang membuat tindakan tersebut cenderung akan diulangi. Orang yang tidak memahami hal ini kadang membuat kesalahan dengan mengatakan,”Behaviorisme tidak bekerja dengan baik. Saya telah memberinya reinforcement tetapi tak ada yang terjadi.” Sesuatu bukan merupakan reinforcement kecuali bekerja dengan baik, mi-salnya, kecuali ia merubah behavior. Yang diamaksud orang-orang disini adalah bah-wa mereka bermaksud untuk mereinforce behavior yang mereka inginkan tetapi se-sungguhnya mereka tidak melakukannya. “Reinforcement” sama dengan kata “re-ward”. Idenya sederhana tetapi ragam jenis dan tekniknya kadang kompleks dan me-ngejutkan. Ini dalah salah satu kompleksitasnya: Apakah sesuatu direinforce atau tidak bergantung pada orangnya dan ini bisa beragam dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Seseorang tak bisa begitu saja mendaftar obyek, aktivitas, perasaan, atau hubungan yang merupakan reinforcer atau bukan. Bukti dari reinforcement dalam adonan behavioural adalah : Apakah behavior subsekuennya berubah ?

Ada berbagai cara untuk mengelompokkan reinforcement dan kategorinya tidak bersifat eksklusif. Perbedaan intrinsik/ekstrinsik didasarkan pada apakah behavior melakukan reinforcing sendiri atau apakah ia di-reinforce karena manfaat subsekuen yang bukan merupakan bagian integral dari behavior. Sebagai misal, rasa bangga akan prestasi, kepuasan karena keingin-tahuan telah terpenuhi, kesenangan dalam learning, kesenangan estetik, dan banyak aspek dari sex dan perasaan tubuh lain yang dinik-mati, bukan karena mereka mengarah pada extrinsic reward.

Cara kedua untuk mengelompokkan reinforcement adalah postive/negative. Dalam kedua kasus reinforcement membuatnya sama dengan behavior yang akan timbul lagi, dalam kasus positif karena ia menyenangkan dan dalam kasus negatif karena ia meng-hentikan situasi yang tidak disukai oleh seseorang. Senyum seorang guru, kata-kata penghagaan, semangat dari teman kelas, semuanya sama dengan fungsi sebagai po-sitive reinforcement, hal-hal tersebut cenderung membuat tindakan seseorang terjadi lagi. Perbedaan antara apa yang kita inginkan untuk direinforce dan apa yang sebe-narnya kita lakukan untuk me-reinforce adalah hal yang penting bagi guru dan orang tua.

Negative reinforcement juga membuat behavior lebih cenderung untuk timbul lagi karena siswa mendapat penghargan dari tindakannya dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan yang dilingkupi kegelisahan dan perasaan bersalah. Sebegai misal, seorang anak yang menderita sakit perut dan diijinkan untuk me-ninggalkan sekolah pada hari ia harus menjalani tes telah dihargai karena sakitnya dengan melepaskan diri dari ujian.

Cara ketiga untuk mengelompokkan reninforcement adalah dengan melihat apakah mereka self-administered, social (datang dari orang lain), atau impersonal. Mahoney dan Thoreson menunjukkan satu cara untuk mengajarkan orang bagaimana mengem-bangkan behavioral skill bagi maksud intrinsik mereka sendiri. Sayangnya, para be-haviorist mempunyai reputasi dalam mengontrol orang lain. Artikel Mahoney-Thoreson menunjukkan satu pola baru dalam behaviorism: Setiap orang mempunyai controller sendiri. Orang yang melakukan kontrol terhadap reinforcement-nya sendiri adalah orang yang benar-benar independen. Behavioral self-control adalah satu cara untuk mencapai independensi. Ia bergantung pada pemilihan aktivitas yang secara intrinsik menghargai dan melakukan kontrol pada penghargaan ekstrinsik seseorang.

Social reinforcement berarti reinforcement yang datang dari orang lain seperti perhatian, penghargaan, senyum, menjawab pertanyaan, bicara, atau semua interaksi yang menyenangkan. Tampak jelas dalam daftar tersebut, sebagian besar dari inte-raksi harian kita dengan orang lain dapat direinforce; meski kita tidak menganggap mereka sebagai reinforcement pada saat itu. Satu kompleksitas lain dari behavioral psychology tampak ketika kita memperhatikan bahwa seseorang mempunyai banyak hubungan sosial yang terjadi pada satu saat.

  1. Reinforcement adalah ide yang paling penting dalam behavioral psychology yang diaplikasikan pada pendidikan. Ketika Freudian berpikir tentang human behavior, mereka akan segera bertanya,”Dimana ketidaksadaran timbul? Ktika para behaviorist merencanakan pendidikan, ketika mereka menjelaskan me-ngapa seseorang melakukan apa yang dia lakukan, dan ketika mereka belajar bagaimana mengajar, pertanyaan yang mereka tanyakan adalah “Behavior apa yang direinforce?” Pilih reinforcement yang sesuai (bila tidak berjalan de-ngan baik, pilih yang lainnya).
  2. Reinforcement harus datang setelah behavior. Hukum Nenek : Pertama makan sayuran, kemudian baru pencuci mulut.
  3. Reinforcement harus datang sesegera mungkin setelah behavior. Guru yang tidak mengembalikan makalah muridnya sama sekali atau menundanya dalam waktu yang lama telah melakukan kesalahan profesional.
  4. Banyak penghargaan kecil rasanya lebih baik dibanding satu yang besar.

Ada berbagai variasi dalam reinforcement. Punishment adalah lawan dari positive reinforcement. Banyak orang mengaburkannya dengan negative reinforcement. Da-lam negative reinforcement orang dihargai dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Ada dua keanehan yang harus dilihat guru dalam memandang hukuman. Pertama, apa yang dianggap guru bahwa hukuman tersebut mempunyai ba-nyak elemen penghargaan didalamnya. Ini akan membawa masalah dalam penggu-naan hukuman; ia akan mereinforce guru dalam jangka waktu yang pendek. Biasanya ada penghentian dari behavior yang dihukum. Guru yang meraih perhatian kelas dapat membuat kelas sepi. Reaksi ini direinforce oleh guru dengan menggunakan hukuman. Bagaimanapun, kepatuhan ini hanya akan berlangsung sebentar dan murid akan bertindak lagi. Efek jangka pendek adalah untuk me-reinforce penggunaan hukuman dan efek jangka panjang adalah meningkatkan tindakan yang tak diinginkan. Guru di-reinforce secara negatif dengan menghentikan situasi yang tidak dia sukai (murid ber-keliling di kelas), dan murid direinforce secara negatif dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak disukai (duduk dibangku dengan mengerjakan tugas).

Bisakah anda bayangkan orang tua yang mengatakan pada anaknya yang baru be-lajar bicara,”kau membuat kesalahan. Jangan bicara lagi sampai kau bisa mengucap-kannya dengan benar”? bila itu terjadi pada kita semua, mungkin kita takkan pernah belajar bicara. Apa yang dilakukan para orang tua secara alamiah adalah dengan me-reinforce anak-anak mereka pada setiap perkembangan ketika mereka belajar bicara. Pertama, mungkin melalui semua bunyi, kemudian hanya bunyi yang menyerupai ka-ta, kemudian kata yang tersusun dengan baik, dan seterusnya. Ini adalah proses shap-ing (pembentukan). Meski tujuan akhir ada dalam pikiran, biasanya perlu mengajar perilku yang diinginkan dengan memberi penghargaan pada tiap langkah kecil sepan-jang jalan. Dari sinilah bakat pengajaran yang asli kelihatan, yaitu dengan mengetahui kapan harus mereinforce dan kapan harus bergerak ke langkah selanjutnya.

Apa yang terjadi bila behavior tidak di-reinforce atau dipunish? Setelah sesaat ia akan menjadi berkurang dan berkurang. Ini adalah extinction. Pernahkan anda men-dengar nasihat, “Jangan hiraukan dia?” itulah extinction. Extinction seringkali sulit dilakukan karena membuat kita harus tidak mengeluarkan reaksi pada hal-hal yang biasanya menimbulkan reaksi. Tetapi sekali extinction dimulai, penting untuk melan-jutkannya.

Jenis extinction yang khusus adalah desensitization. Seperti dalam shaping, de-sensitization dilakukan dengan langkah-langkah kecil. Orang mulai desensitizasi sen-diri pada sesuatu yang sedikit mengganggunya, misalnya berbisik. Kemudian satu langkah setiap waktu, dia melakukannya pada hal-hal yang lebih besar, misalnya me-nyalakan dan mematikan lampu. Learning untuk melakukan toleransi pada satu situasi adalah cara lain yang terpikirkan tentang desensitizasi. Ini berguna untuk kondisi-kondisi semacam ketakutan yang tak beralasan dan contoh lain dari reaksi secara kebiasaan pada hal-hal yang orang belajar untuk tidak menghiraukannya.

Reinforcement dengan berbagai tipe, shaping, punishment, extinction, dan desen-sitization adalah cara-cara spesifik untuk mengajarkan banyak hal pada orang. Peng-gunaan salah satu atau kombinasi dari mereka disebut sebagai behavior modification. Kita tak punya pilihan untuk memutuskan apakah kita takkan menggunakan behavior modification, untuk segala sesuatu yang kita lakukan pada orang lain, atau tidak me-lakukannya, efek terhadap apa yang dia lakukan. Bila kita putuskan untuk menghargai beberapa behavior, bahkan hanya dengan senyuman, kita telah menghargainya. Dan bila kita memilih untuk mengabaikannya, kita akan mematikan tindakannya, atau me-ngajarkan padanya bahwa dia akan dihargai nanti setelah dia melakukannya dengan gigih. Tak ada jalan untuk tidak menggunakan behavior modification.

B.1.3.  Perilaku Objektif (Behavioral Objective)

Robert M. Gagne

Clearer Thinking for Clearer Teaching. Berpikir adalah salah satu kemampuan terbesar dan potensi yang bisa dikembangkan dari manusia. Bagaimana para guru mengembangkan kemampuan ini dalam diri kita dan menggunakannya untuk mengembangkan pengajaran kita? Bagaimana kita bisa merasa jelas terhadap diri kita dan terhadap murid kita tentang apa yang kita upayakan untuk dilakukan?  Ketika kita membantu seseorang untuk berkembang, bagaimana kita bisa tahu bahwa dia telah berkembang? Satu pendekatan bahavioral-objective adalah prosedur untuk membantu kita menjadi lebih jelas dan pasti. Sebagai satu rangkaian langkah untuk pemikiran yang jelas, pendekatan behavioral-objective berguna dalam pendidikan seperti satu formula yang digunakan dalam matematika dan ilmu pengetahuan lain, seperti grammar dalam menyusun bahasa, dan seperti rambu-rambu pada jalan yang menjadi pemandu bagi pengemudi. Mereka semua membantu kita untuk berpikir lebih jelas dan bertindak lebih efisien.

B.1.4.  Sifat Objektif Instruksional (Instructional Objektives)

Pernyataan bahavioral objective ditujukan untuk membicarakan (bagi penerima tertentu atau kelompok penerima) hasil dari beberapa unit instruksi. Seseorang ber- asumsi bahwa tujuan umum dari isntruksi adalah learning pada bagian dari murid.      Rasanya cukup alamiah bahwa seseorang seharusnya berupaya untuk mengiden-tifikasi hasil dari learning sebagai sesuatu yang para murid mampu melakukannya dengan mengikuti instruksi yang dia tidak mampu untuk melakukan sebelum ada instruksi. Ketika seseorang mampu mengungkapkan efek dari instruksi dengan cara ini, dengan menjabarkan performa yang bisa diteliti oleh learner, kejelasan dari per-nyataan tujuan ada pada tingkatan maksimum. Konsekuensinya, reliabilitas komu-nikasi pada instructional objectives juga mencapai tingkatan tertingginya.

Bagi beberapa guru dan pendidik, tampaknya lebih penting untuk mengidentifikasi hasil learning dalam bentuk kapabilitas yang diperoleh learner sebagai akibat instruk-si dibanding dalam bentuk performa yang dia mampu lakukan. Kami seringkali me-nyebut bentuk tersebut sebagai “pengetahuan”, “pemahaman”, “penghargaan” dan la-in-lain yang bertujuan mengidentifikasi kapabilitas yang dipelajari atau disposisi.

B.1.5. Penggunaan Perilaku Objektif melalui Sekolah

Pernyataan yang menjabarkan instructional objective mempunyai tujuan utama untuk komunikasi. Dengan mengasumsikan bahwa pendidikan mempunyai bentuk sistem yang terorganisir, komunikasi menyangkut hasil aktual dan yang diinginkan sangat diperlukan, diantara perancang instructional material, perencana course dan program, guru, murid, dan orang tua. Agar proses pendidikan dapat berfungsi secara benar bagi learning, komunikasi dari berbagai hal tersebut harus terjadi. Ketika salah satunya dihilangkan, pendidikan menjadi kesatuan sistematik dengan satu derajat kehilangan yang bertujuan untuk mencapai tujuan kemasyarakatan tertentu yang bersinggungan dengan “orang dewasa yang berpendidikan”.

Beberapa cara terpenting dimana berbagai komunikasi tentang tujuan dapat di-gunakan disekolah adalah dengan mengikuti hal-hal berikut.

  1. Perancang instruksional kepada perancang course. Rangkaian komuniaksi ini memungkinkan seseorang merencanakan satu kursus dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya untuk memilih materi yang dapat menimbulkan hasil yang diinginkan. Sebagai contoh, bila satu kursus pada ilmu pengetahuan ditingkatan yunior mempunyai tujuan untuk “mengajar murid untuk berpikir secara ilmiah”, perencana akan mencari rangkaian materi yang memberi pe-nekanan learning pada skill intelektual dan strategi kognitif.

Kebalikannya, bila tujuan dari kursus tersebut adalah “menyampaikan sudut pandang ilmiah dari ekologi bumi”, perencana kurikulum akan cenderung mencari materi yang terkait dengan learning menyangkut informasi yang ter-organisir yang ditunjukkan oleh beberapa tujuan seperti “menjelaskan ba-gaimana kandungan karbondioksida dalam udara bisa mempengaruhi suplai air bawah tanah”.

  1. Perancang atau perencana kepada guru. Komunikasi menyangkut tujuan pada guru memungkinkan pihak terakhir tersebut untuk memilih cara yang sesuai dalam pemberian instruksi dan juga cara untuk mencapai efektivi-tasnya. Sebagai contoh, seorang guru bahasa asing yang mengambil sasaran “melafalkan kata-kata dalam bahasa Prancis yang mengandung uvular ‘r’” mampu (atau harusnya mampu) memilih satu bentuk instruksi yang membe-rikan praktek dalam pelafalan kata-kata Prancis yang mengandung ‘r’ dan untuk menolak ketidaksesuaian tujuan ini pada kuliah menyangkut “peng-gunaan uvular ‘r’ dalam kata-kata bahasa Prancis”.
  1. Guru kepada murid. Ada banyak situasi instruksional dimana hasil learning diharapkan bisa tampak pada murid karena pengalamannya dengan instruksi yang sama. Sebagai contoh, bila dalam mata pelajaran matematika, dan to-piknya berubah dari penambahan pecahan menjadi perkalian pecahan, maka pemberian nama dari topik tersebut akan memadai untuk menyiratkan tujuan.
  1. Guru atau kepala sekolah kepada orang tua. Tampaknya mengejutkan bahwa orang tua masih juga memperhatikan “nilai” dengan hanya membe-rikan sedikit informasi yang mereka sampaikan. Bila trend terhadap “kondisi yang bisa dipertanggung-jawabkan” (accountability) berlanjut, angka harus dihilangkan. Para guru tak bisa dipegangi tanggung jawab menyangkut A, B, dan C dan bahkan, angka-angka tersebut bertentangan dengan semua sistem accountability. Tampaknya basis dari accountability adalah instructional ob-jective. Karena hal itu harus mengungkapkan satu hasil learning, ia harus diungkapkan dengan terminologi behavioral.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s