programe

PROPOSAL

PEMBENTUKAN MUSYAWARAH

GURU BIMBINGAN KONSELING

DEPARTEMEN AGAMA JAWA TIMUR

Membentuk siswa yang cerdas, berwawasan, berimtaq dan berahlakhul karimah”

I. DASAR PEMIKIRAN

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pasal 1 ayat (6) Undang-undang No. 20 tahun 2003 juga menyatakan konselor termasuk ke dalam kategori pendidik. Artinya tugas konselor adalah mewujudkan : Suasana belajar

Suasana belajar konselor yang professional berkewajiban mewujudkan kondisi meaningful learning di satu sisi, dan sisi lain menghindarkan berkembangnya rote learning, rot learning, apalagi no-learning. Terwujudnya meaningful learning pada klien adalah proses konseling yang efektif.

Legalitas Profesi Konseling:

UU RI No 20 Th 2003 tentang Sistem  Pendidikan Republik Indonesia, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

UU RI tahun 2003 bab 1 pasal 1 ayat 4 dinyatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dengan ditetapkan istilah konselor UU SPN NO.20 Tahun 2003 maka profesi konseling telah diakui keberadaann “sejajar” dengan profesi “Helping” yang lain PROFESI KONSELING TUNTUTAN UNTUK LEBIH PROFESIONAL

Untuk itu perlu dilakukan langkah mempersiapkan dan melengkapi guru Bimbngan Konselin dengan berbagai keunggulan. Termasuk dengan membentuk suatu wadah yang berfungsi sebagai media pengembangan professional, Karena masa depan kesejahteraan anak Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas daya saing serta kiprah para guru yang selalu konsisten terhadap pendidikan. Sudah saatnya kita mengejar ketertingalan dan keterpurukan pendidikan yang kian detik kian tertinggal jauh dari tuntutan globalisasi, dengan semagat perubahan yang berlandaskan ajaran-ajaran islam,  dan semangat nasionalisme secara total.

Abstraksi dan latar belakang di atas, mengharuskan Guru Bimbingan Konseling (BK) di lingkungan Departemen Agama Jawa Timur untuk turut “urun rembug” menyelesaikan persoalan pendidikan bangsa ini dengan peningkatan profesionalisme melalui pembentukam Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) se- Jawa Timur

Untuk itu, kami, Guru Bimbingan Konseling (BK) Departemen Agama Jawa Timur bermaksud mengadakan pembentukan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur dengan tema,Membentuk siswa yang cerdas, berwawasan, berimtaq dan berakhlakul karimah”

II. TEMA

Kegiatan Pembentukan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur ini mengambil tema :

Membentuk siswa yang cerdas, berwawasan, berimtaq dan berahlakhul karimah”

III. BENTUK KEGIATAN

  1. Pembentukan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur  oleh Mapenda Jawa Timur
  2. Pembentukan pengurus Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur
  3. Pelantikan pengurus Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur  Oleh Mapenda Jawa Timur

IV. TUJUAN

  1. Menigkatkan profesionalisme Guru Bimbingan Konseling (BK) di lingkungan Departemen Agama Jawa Timur
  1. Semakin marak dan diterimanya pelayanan profesi guru pembimbing/konselor di masyarakat luas,
  2. Meningkatkan kepercayaan diri tenaga professi konseling tentang kompetensinya dalam melaksanakan pelayanan professi konseling.
  3. Meningkatkan peran organisasi profesi konseling dalam melaksanakan “tri darma” organisasi profesi, yaitu : (a) mendorong implementasi praktik pelayanan professional melalui penerapan secara kuat kompetensi profesi konseling, (b) menegakkan kode etik profesi konseling, dan (c) ikut serta dalam pengembangan ilmu dan teknologi konseling.

V. TARGET

  1. Terbentuknya Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) di lingkungan Departemen Agama Jawa Timur
  2. Terbentuknya pengurus Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur
  3. Dilantiknya pengurus Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Departemen Agama Jawa Timur  Oleh Mapenda Jawa Timur
  4. Meningkatkan tali persaudaraan antar semua warga Departemen Agama se-Jawa timur khususnya dan Indonesia umumnya

VI. DASAR PELAKSANAAN PEMBENTUKAN

  1. UU RI tahun 2003 bab 1 pasal 1 ayat 4 dinyatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
  2. Koordinasi seluruh delegasi Guru Bimbingan Konseling (BK) Departemen Agama se-Jawa Timur

VII.PELAKSANA/PENGAJU

Pelaksana atau pengaju pembentukan MGBK ini adalah seluruh peserta diklat Bimbingan dan Konseling MTs/MTsN dan MA/MAN yang sudah merupakan delegasi dari seluruh kota dan kabupaten di lingkungan  Departemen Agama Jawa Timur. Adapun data seluruh peserta tersebut sebagaimana terlampir.

VIII. PENUTUP

Demikian proposal permohonan ini dibuat untuk menjadi pedoman dalam terbentunya Musyawarah Guru Binbingan dan Konseling Departemen Agam Jawa Timur dengan harapan akan mendapat respon positif dari berbagai pihak. Atas segala perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Surabaya, 01 JUNI 2008

GURU BIMBINGAN KONSELING

DEPARTEMEN AGAMA JAWA TIMUR

KOORDINATOR                                        SEKRETARIS

(Drs. JUNAEDI) ( ETING IDA FITRIYAH, S. Pd.)

NIP: 150369608 NIP: 150332871

SUSUNAN PENGURUS MUSYAWARAH GURU BIMBINGAN KONSELING (MGBK) DEPARTEMEN AGAMA JAWA TIMUR

PENASEHAT : DR. H.M. Suyudi, MM

NIP. 150198750

Kepala Bidang Mapenda Kanwil Propinsi Jawa Timur

PENGARAH :  Drs. H. Djoko Surono, MM

NIP. 150238505

Kepala Seksi Kelembagaan dan Ketatalaksanaan Bidang Mapenda Kanwil Propinsi Jawa Timur

PENGENDALI PROGRAM :  Drs. Agus Akhmadi, M.Pd

NIP. 150248568

(Balai Diklat Keagamaan Surabaya)

Dra. Hj. Fonny Annawati, M. Pd, Psi

NIP. 150231648

(MTsN 1 Malang)

KETUA :  Drs. Junaedi

NIP. 150369608

(MTsN Kencong Jember)

WAKIL KETUA :  Zainal Muttaqin, S.Pd

NIP. 150337041

(MTsN Model Babat – Lamongan)

SEKRETARIS : Eting Ida Fitriyah, S.Pd.

NIP. 150332871

(MTsN 1 Surabaya)

WAKIL SEKRETARIS : Nurul Aini Hidayati

NIP. 150270121

(MAN Bangil Pasuruan)

BENDAHARA : Arbaniyati

NIP. 150367673

(MAN 3 Malang)

WAKIL BENDAHARA : Dra. Dewi Julirati

NIP. 150338929

(MTsN Kab. Madiun)

KOORDINATOR MTs : Suharno, S.Pd

NIP. 150342962

(MTsN Panekan Magetan)

KOORDINATOR MA : DJoko Susilo

NIP. 131918532

(MAN 2 Kediri)

KOORDINATOR KARISIDENAN :

1. MALANG            : Chusnul Mauluah, S. Psi.

NIP: -

(MAN 1 Malang)

: Akhmad Kunaini, S. Pd.

NIP: 150335184

(MAN Pajarakan Probolinggo)

2. BOJONEGORO            : Murdjiyanto, S. Pd.

NIP:   -

( MAN Babat – Lamongan)

3. SURABAYA : Dra. Ulumiyah

NIP: 150322826

(MAN Surabaya)

: Dra. Hj. Qowasiril Abdiyah

NIP: 131789049

(MAN Sidoarjo)

4. KEDIRI : Drs. Suyono

NIP: 150270893

(MAN 3 Kediri)

5. MADIUN             : Dra. Reni Susana

NIP: 150274941

(MAN 1 Ponorogo)

6. MADURA            : Suliha, S. Pd.

NIP:   -

(MA An-Nidhomiyah Bangkalan)

7. JEMBER                        : Imam Turmudi, S. Ag.

NIP: 150385758

(MAN 2 Situbondo)

KOORDINATOR WILAYAH KERJA  MTs / MTsN dan MA / MAN

NO

NAMA

NIP

WILAYAH KERJA

1. Sri Suryani. S. Pd.

MTsN  Magetan
Siti Subaidah

150322814

MTsN Sampang
Any Naffiah. S. Pd.

150337778

MTsN Gresik
Anik hermawati

-

MTsN probolinggo
Heri Pemudia W.S.Sos, i

-

MTsN Bangkalan
Nunung Tri S, S.Pd.

150335554

MTsN Model Trengalek
Nur Hatimah S. Pd.

150352583

MTsN Bondowoso 1
Dra. Evvy Maria hanifah

150223438

MTsN Grogol kediri
Wahyu Tri Agustin. S. Pd.

150334625

MTsN 2 Bojonegoro
Ridwanudin, S. Pd.

-

MTsN  Tulung Madiun
Arifaf Seti Wigati. S. Pd.

150369458

MTs Hamid Rusydi
Ari Styowati. S. Pd.

150271707

MTsN Kota Madiun
Dra. Harisati Rahmat

150338124

MTsN Badal Kidul kota Madiun
Ninik Trimariya. S. Psi.

-

MTsN Malang 3 Kab. Malang
Widuri Herowati. S. Pd.

150337284

MTsN Rejo Tanggan Tulung agung
Annisa D. Isnita. S. Pd.

150338250

MTsN Lumajang
Asfiatul Mukharomah. S. Pd.

150337369

MTsN Jabong Kab. Blitar
N. Sulistyo Ningsih. S.Pd.

150236796

MTs Nurul Islam. Bluto Sumenep
Endang Suhartini. S. Pd.

150333087

MTsN Geneng Ngawi
Siti Rahmawati. S. Pd.

150338362

MTsN Pacitan
Moch. Saiful Jihad. S. Pd.

150339094

MTsN Ronggot Nganjuk
Agus Suwarno. S. Pd.

150339373

MTsN Blitar
Ali Al Azhar. S. Ag.

-

MTs Brawijaya Kota Mojokerto
Ach. Marzuqi. S. Pd.

150384911

MTsN Jogoroto Jombnag
Nuruk Qomariah. HS. S. Pd.

150335958

MTsN Mojosari Kab. Mojokerto
Etting Ida Fitriah. S. Pd.

150332871

MTsN Surabaya 1
Pitono. S. Pd.

150338225

MTsN  Sumber Baru Jember
Drs. Sukirno

150369375

MTsN Banyuwangi
Idatul Hidayah. S. Pd.

150336337

MTsN Kota Pasuruan

30.

Zuhrotun  Nisak. S. Pd.

150334585

MTsN Lamongan

31.

Kumiatin

150295648

MAN Kota Blitar

32.

Faoziah Darraeni

150333368

MAN Dolopo Madiun

33.

Ahmad Fakhrudin

-

MAN Mojo Agung Jombang

34.

Moh. Rosyidi

150335188

MAN Paiton Probolinggo

35.

Agus Heri Suaedi

-

MAN 1 Tuban

36.

Elis Farida

150339006

MAN 2 Batu Malang

37.

Ceci Manikamerawati

150337055

MAN Model Bojonegoro

38.

Wahyu Suci Nabiasyanti

-

MAN Mantingan Ngawi

39.

Aris Sulaiman

150334301

MAN Lumajang

40.

Muh. Zuhal

150335451

MAN Nglawak Kertosono Nganjuk

41.

Imron Rosady

150312783

MAN 2 Jember

42.

Luluk Fadliyah

-

MAN 1 Probolinggo

43.

Nur Wakhid

-

MAN 1 Situbondo

44.

Hilma Zakiyyah

-

MA Al Ittihad Malang

45.

Warsibingatin

150271546

MAN Temboro Magetan

46.

Yuliana

150333156

MA Al Mukarrom

47.

Suparto

150210973

MAN 2 Tulungagung

48.

Romlah

150335912

MAN Mojosari Mojokerto

49.

Suhartini

150333957

MAN 1 Pamekasan

50.

Basir

132212394

MAN 2 Madiun

51.

Marhasan

150352632

MAN 1 Sumenep

52.

M. Imron, S, Sos. I

-

MA Daruttaqwa Pasuruan

53.

Drs. Pairin

150295017

MAN 1 Kediri

54.

Nurhayati

-

MAN Sampang

55.

Syahid

-

MAN Babat Lamongan

56.

Muhammad Nafik

-

MAN Pasuruan

57.

Nur Indriani, S. Psi.

-

MAN 2 Batu Malang

58.

Tri Yulianingsih

-

MAN Pacitan

59.

Imam Asmui

150332736

MAN 1 Kota Mojokerto

60.

Supaat

150274884

MAN 1 sidoarjo

61.

Siti Sa’adah

-

MAN Bangkalan

62.

Muhammad Muhrizin

MAN 2 Jember

PROGRAM KERJA

MUSYAWARAH GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (MGBK)

DEPARTEMEN AGAMA JAWA TIMUR

TAHUN BHAKTI 2008 – 2010

KATA  PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT. dan semoga Sholawat serta salam selalu tercurahkan lepada Sang Revolusioner Akbar kita, Nabi Besar Muhammad SAW,  karena atas segala rahmat dan hidayahNyalah kami dapat penysunan program kegiatan Layanan Bimbingan Konseling ini sebagaimana mestinya.

Layanan bimbingan konseling merupakan unsur penting dalam proses perkembangan pendidikan di Madrasah, berawal dari  pola tujuh belas plus maka program layanan bimbingan konseling ini di sesusun sebagai pedoman yang dinamis dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling di MA Negeri Lamongan. Pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan konseling di programkan dan di aplikasikan secara konsekuen dan sistematis dengan usaha semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan kepada seluruh warga MA Negeri Lamongan.

Kami merasa bahwa dalam penyusunan program kerja ini, masih jauh dari kesempurnaan Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi kemajuan pelaksanaan kegiatan Bimbingan Konseling di MA Negeri Lamongan.

Sesuai dengan motto dari pelaksanaan bimbingan dan konseling yaitu” I am ok, You are ok”, maka sasaran pelaksanaan kegiatan kami di lapangan ditujukan untuk membantu kepentingan siswa yang tentu saja sesuai dengan norma – norma yang berlaku. Akhirnya kami sampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang selama ini banyak membantu kami, baik dalam rangka persiapan penyusunan program ini, maupun dalam rangka pelaksanaan kegiatan kami di lapangan.

Mudah – mudahan amal baik tersebut mendapat ganjaran setimpal di sisi Allah SWT, amin.

Lamongan.  Juni 2008

Penyusun

DEPARTEMEN AGAMA

MADRASAH ALIYAN NEGERI LAMONGAN

Alamat : Jl. Veteran No. 43 Lamongan 62271Telp./Fax (0322) 321649

e-mail : man.lamongan@yahoo.com / man_lamongan@telkom.net

VISI DAN MISI MA NEGERI LAMONGAN

VISI

” Berkepribadian Islami, Unggul Dalam Prestasi, Siap     Hidup Mandiri, Dan Membela Agama Dan Nkri ”.

Indikator – indikatornya adalah :

  1. Ungul dalam pembinaan kepribadian islami yang diwujudkan dalam kehidupan sehari – hari.
  2. Unggul dalam peningkatan prestasi akademis
  3. Unggul dalam pencapaian nilai mata pelajaran UN sesuai yang ditetapkan oleh BSNP.
  4. Unggul dalam prestasi di bidang Bahasa  ( Arab, Inggris, dan Jepang )
  5. Unggul dalam prestasi olahraga dan seni dengan di raihnya kejuaraan tingkat regional, nasional, maupun global.
  6. Memiliki jketerampilan dan jiwa wirausaha.
  7. Memiliki lingkungan Madrasah yang nyaman dan kondusif untuk belajar.
  8. Memiliki jiwa patriotisme yang tinggi dan tanggap terhadap permasalahan agama dan bangsa. Mendapat kepercayaan dari masyarakat.

MISI

  1. Menumbuh kembangkan sikap dan amaliah keagamaan islam dalam kehidupan sehari-hari
  2. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.
  3. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga madrasah baik dalam prestasi akademik maupun non akademik.
  4. Mendorong dan membantu siswa untuk hidup mandiri dengan membekali keterampilan sesuai dengan potensi dirinya.
  5. Menjalin kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dengan lembaga / instansi lain.
  6. Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat, bersih dan indah.
  7. Menerapkan menejemen parsipatif dengan  melibatkan seluruh warga Madrasah dan Komite Madrasah secara tertib, transparan, dan dapat  dipertanggungjawabkan.
  8. Menumbuh kembangkan sikap jiwa patriotisme melalui kegiatan penelitian terhadap masalah-masalah agama dan bangsa.

STRUKTUR PROGRAM

Program ini dibuat dalam kerangka garis besar sebagai berikut :

  1. Bab I : Pendahuluan membahas tentang latar belakang, Landasan, tujuan.
  2. Bab II : Pengembangan diri membahas tentang Landasan, Pengertian, Runang lingkup,Bentuk-bentuk pelaksanaan dan Tugas perkembagan siswa
  3. Bab III : Kegiatan ekstra kurikurer membahas mengenai Struktur kegiatan ekstrakurikure, perencanaan kegiatan, Bentuk kegiatan, penilaian kegiatan, pelaksanaan kegiatan dan pengawasan kegiatan
  4. Bab IV : Layanan Bimbingan Konseling, Membahas mengenai. Struktur layanan bimbingan konseling, Organisasi Bimbingan Konseling, Mekanisme penaganan siswa bermasalah, Profesionalisme Bimbingan konseling, Perencanaan kegiatan, Penilaian kegiatan, Pelaksanaan kegiatan dan pengawasan kegiatan Bimbingan Konseling
  5. Bab V : Penutup

Lampiran – lampiran.

DAFTAR ISI

Hal

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………..                   i

Visi dan Misi MA Negeri Lamongan ………………………………………………..               ii

Struktur Program……………… …………………………………………………………..                  i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………….                    ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………..                  1

A.  LANDASAN …………………………………………………………………..                    1

B.  LANDASAN ……………………………………………………………….                        1

  1. TUJUAN ……………………………………………………………………….                      2   

BAB II PENGEMBANGAN DIRI ……………………………………………………….                4

A. LAN DASAN………………………………………………………….                              4

B. PENGERTIAN……………………………………………………………….

C. TUJUAN…………………………………………………………………………

D. RUANG LINGKUP…………………………………………….

E. BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN……………………………….

F. TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK………………………..

BAB III KEGIATAN EKSTRA KURIKURER

A. STRUKTUR KEGIATAN EKSTRAKURIKURER……….

B. PERENCANAAN KEGIATAN…………………………….                       9

C.  BNTUK KEGIATAN

D.  PENILAIAN KEGIATAN ……………………………………………….                     10

  1. PELAKSANA KEGIATAN …………………………………………….                    11

F.   PENGAWASAN  KEGIATAN …………………………………………                   12

BAB IV PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING…………………………………………

A. STRUKTUR BIMBINGAN KONSELING

B. ORGANISASI BIMBINGAN KONSELING…………………………..

C. MEKANISME PENAGANAN SISWA BERMASALAH…………….

D. PROFESIONALISME BIMBINGAN KONSELING……………….

E. PERENCANAAN KEGIATAN ………………………………………..          15

C.  PENILAIAN KEGIATAN           …………………………………………         15

E.  PELAKSANA KEGIATAN ……………………………………………..         15

F.   PENGAWASAN  KEGIATAN  ………………………………………..          16

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DAN PERMASALAHAN SISWA

2. PENJABARAN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING

3. SILABUS BIMBINGAN KONSELING

4. PROTA BIMBINGAN KONSELING

5. PROMES BIMBINGAN KONSELING

BAB  I

PENDAHULUAN

B.    LATAR BELAKANG

Kegiatan bimbingan dan konseling merupakan bagian dari kegiatan/ proses pendidikan dan Madrasah, pernyataan tersebut telah lahir sejak diterapkannya secara formal kegiatan bimbingan di Madrasah, yaitu pada saat diberlakukannya kurikulum 1976 dimana pada saat itu istilah yang dikenal adalah Bimbingan dan Penyuluhan (BP).

Seiring pergantian waktu dan perkembangan diberbagai segi kehidupan, maka perubahan ke arah perbaikan dalam bidang pendidikan pun mendapat perhatian yang baik sekali, namun demikian laju perkembangan kegiatan bimbingan dan konseling belum seperti yang diharapkan, banyak hambatan yang terjadi dan harus di hadapi oleh guru pembimbing, seperti terbatasnya guru pembimbing, terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia.

Dalam Undang – Undang Pendidikan No. 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas disebut bahwa ”Pendidikan adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/ atau latihan bagi peranannya di masa depan”.

Ternyata dalam perkembangan selanjutnya di lapangan keberadaan bimbingan dan konseling mendapat perhatian yang menggembirakan, yaitu dengan ditetapkannya pedoman yang jelas dan pasti, yakni SK Menpan No. 84 / 1993 beserta SKB No. 0433 / 93 dan No. 25 tahun 1993, yang melahirkan beberapa butir besar dan mendasar tentang pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di Madrasah, antara lain dengan diperkenankannya ”Pola Tujuh Belas Plus ” yang merupakan cakupan dari kegiatan yang harus disampaikan oleh guru pembimbing kepada siswa yang dibimbingnya.

Dalam upaya memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling dengan pola Tujuh Belas Plusnya, tentu saja diperlukan persiapan dan kesiapan baik dari pihak Madrasah maupun dari guru pembimbing itu sendiri.

Persiapan dan kesiapan Madrasah dalam membantu memasyarakatkan Pola Tujuh Belas Plus adalah dengan memberi dukungan baik moril maupun materiil, sehingga pelaksanaan materi layanan bimbingan dan konseling dapat berjalan sesuai dengan program dan kebijakan yang ada di Madrasah. Sementara itu persiapan dan kesiapan guru pembimbing dalam memasyarakatkan Pola Tujuh Belas adalah dengan memperhatikan unjuk kerja mereka dalam melaksanakan layanan – layanan kegiatan yang terencana dan terprogram dengan menyesuaikan kepada kepentingan dan kebutuhan siswa.

Dalam rangaka mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan, Departeman Pendidikan Nasioanal merespon dengan menerbitkan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) yang merupakan refleksi, pemikiran atau pengkajian ulang dan penilaian terhadap Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah 1994 beserta pelaksanaannya. Hasil analisis yang mendalam terhadap keadaan dan kebutuhan pesrta didik di masa sekarang dan yang akan datang menunjukkan perlunya KBK yang dapat membekali peserta didik untuk menghadapi tantang kehidupan secara mandiri, cerdas, dinamis, kreatif dan produktif. Dengan melihat kepada kepentingan dan kebutuhan siswa tersebut itulah, maka motto pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling saat ini adalah “ I am ok, you are ok “ sebagai konsep layanan Bimbimgan Konseling yang professional.

C. LANDASAN

Penyusunan program ini berpedoman kepada :

  1. Undang – undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
  3. PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar.
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 5 s.d Pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.
  5. SK Menpan No. 84 tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
    1. SK Mendikbud No. 025/O/1995 tentang Petunjuk Tehnis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
    2. SKB Mendikbud dan Kepala BKBN No. 0433/p/1993 dan No. 25 tahun 1993.
    3. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di Madrasah dan di luar Madrasah.

10. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan Konseling Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama 2004.

  1. 11. Surat Keputusan pengangkatan     pegangkatan Pegawai Negeri Sipil Departemen Agama Kantor Wilayah Propinsi Jwa Timur

12. Surat Keputusan pengangkatan sebagai Guru Pembimbing MA Negeri Lamongan

13. Surat Keputusan Pembagian Tugas Guru Pembimbing MA Negeri Lamongan.

14. Rapat koordinasi layanan bimbingan dengan kepala MA Negeri Lamongan

D. TUJUAN

Penyusunan program ini bertujuan agar :

  1. Sebagai pedoman pembelajaran, pngembangan diri dan bimbingan dilingkungan MAN Lamongan
  2. Dipakai sebagai bahan acuan oleh guru pembimbing di lingkungan MA Negeri Lamongan
  3. Adanya keseragaman dalam melaksanakan kegiatan layanan bimbingan dan konseling khususnya di lingkungan MA Negeri Lamongan
  4. Dapat membekali peserta didik untuk menghadapi tentang kehidupan secara mandiri, cerdas, dinamis, kreatif dan produktif sesuai dengan tugas-tugas perkembangan siswa MA Negeri Lamongan.
  5. Sebagai pedoman dasar semua kegiatan layanan bimbingan konseling di MA Negeri Lamongan
  6. Sebagai media pengembangan diri siswa

BAB II

PENGEMBANGAN DIRI

A.  LANDASAN

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 5 s.d Pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.
  3. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan di luar sekolah.

B.  PENGERTIAN

Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai  bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling  berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.

Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

C.  TUJUAN

  1. Tujuan Umum

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,  minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.

2. Tujuan Khusus

Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan:

a.  Bakat

b.  Minat

c.  Kreativitas

d. Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan

e.  Kemampuan kehidupan keagamaan

f.   Kemampuan sosial

g.  Kemampuan belajar

h.  Wawasan dan perencanaan karir

  1. i.    Kemampuan pemecahan masalah
  2. Kemandirian

E. RUANG LINGKUP

Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara lansung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik.

Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen:

  1. Pelayanan konseling, meliputi pengembangan:

a.  kehidupan pribadi

b.  kemampuan sosial

c.  kemampuan belajar

d.  wawasan dan perencanaan karir

  1. Ekstra kurikuler, meliputi kegiatan:

a.  kepramukaan

b.  latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja

c.  seni, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan

F. BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN

  1. Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual,  kelompok, dan atau klasikal melalui penyelenggaraan:
  2. layanan dan kegiatan pendukung konseling
  3. kegiatan ekstra kurikuler.
  4. Kegiatan  pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut.

a. Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti: upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri.

b. Spontan, adalah kegiatan  tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran).

c. Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti:   berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.

G. TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Tugas – tugas perkembangan siswa Madrasah Menengah Pertama di MA Negeri Lamongan khususnya  kelas X adalah sebagai berikut :

  1. Mencapai perkembangan dan sebagai remaja yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif sertas dinamis terhadap perubahan fisik  dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
  3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
  4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas.
  5. Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.
  6. Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan / atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan di masyarakat.
  7. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi.
  8. Mengenal sistem etika dan nilai – nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara.

BAB III

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

A. STRUKTUR KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

  1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler

  1. Visi dan Misi

a.   Visi

Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik  yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

b.   Misi

1)   Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka.

2)   Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan  diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.

3.   Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler

  1. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
  2. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
  3. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
  4. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.

4.   Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler

  1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
  2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
  3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
  4. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
  5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
  6. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

  1. Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler

a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).

b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.

c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.

d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan  substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni  budaya.

6.   Format Kegiatan

a.   Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.

b.   Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.

c.   Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.

d.   Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.

  1. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.

B. PERENCANAAN KEGIATAN

Perencanaan kegiatan ekstra kurikuler mengacu pada jenis-jenis kegiatan yang memuat unsur-unsur:

  1. Sasaran kegiatan
  1. Substansi kegiatan
  1. Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta keorganisasiannya
  1. Waktu dan tempat

5    Sarana

(Lampiran 10)

C.  BENTUK  KEGIATAN

1. Kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.

  1. Kegiatan ekstra kurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksana sebagaimana telah direncanakan.

D.  PENILAIAN KEGIATAN

Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.

E.  PELAKSANA KEGIATAN

Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau  tenaga kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.

F.   PENGAWASAN  KEGIATAN

  1. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
  1. Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:

a.  interen, oleh kepala sekolah/madrasah.

  1. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.

BAB IV

PELAYANAN KONSELING

A. STRUKTUR PELAYANAN KONSELING

Pelayanan konseling di sekolah/madrasah  merupakan usaha membantu peserta didik   dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling  memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

  1. Pengertian Konseling

Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Bimbingan konseling harus meliputi:

  • Pelayanan bantuan kepada individu
  • Secara perorangan atau kelompok
  • Agar individu mandiri dan berkembang optimal
  • Difokuskan kepada kepedulian untuk  memberikan hal-hal positif kepada individu
    • Meringankan beban psikologis
    • Memberikan semangat dan penguatan
    • Memberikan alternatif dan kesempatan
    • Memberikan pencerahan dan kesejukan
  • Mendorong terwujudnya hak, kepentingan, dan kewajiban individu secara efektif

2.   Paradigma, Visi, dan Misi

b. Paradigma

Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya.  Artinya, pelayanan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.

c. Visi

Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.

c.  Misi

1)   Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.

2) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat.

3)  Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

3.   Bidang Pelayanan  Konseling

a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu  peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik  kepribadian dan kebutuhan dirinya secara  realistik.

b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.

c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.

d. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

  1. Fungsi Konseling
    1. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya.
    2. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
    3. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.
    4. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya.
    5. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

5. Prinsip  Konseling

Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan, permasalahan yang dialami peserta didik, program pelayanan, serta tujuan dan pelaksanaan pelayanan.

a. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan.

v     Bimbingan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur jenis kelamin, suku, agama dan sosial ekonomi.

v     Bimbingan dan Konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang dinamis dan unik.

v     Bimbingan dan Konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembagan individu.

v     Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individu yang menjadi pokok orientasi pelayanan

b. Prinsip-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu

v     Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah di Madrasah serta dengan kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu

v     Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dn konseling

c. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan

v     Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu, oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus di selaraskan dan di padukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.

v     Program bimbngan dan konseling harus fleksibel di sesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.

v     Program bimbingan dan konseling harus di susun secara berkelanjutan dari jenjang paling rendah sampai tertinggi

v     Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus diadakan penilaian yang teratur dan terarah

d. prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan palayanan

v     bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan induividu yang akhirya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan.

v     Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil akan dilaksanakan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri bukan karena desakan dari pembimbing atau pihak lain.

v     Permasalahan individu harus di tangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang di hadapi

v     Kerja sama antar guru pembimbing guru-guru lain dan orang tua amat menentukan hasil pelayanan bimbingan dan konseling

v     Pengembangan program bimbingan dan konseling di tempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu semndiri.

6. Asas – asas Bimbingan konseling

Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan,  keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.

Dalam memberikan bantuan Konselor Madrasah mengacu pada asas-asas dalam bimbingan dan konseling yaitu :

a. Asas Kerahasian

Yaitu asas Bimbingan dan Konseling yang menuntut dirahasikannya segenap data dan keterangan tentang peserta didik /klien yang menjadi sasaran layanan.

b. Asas Kesukarelaan

Yaitu asas Bimbingan dan Konseling yang menghendaki adanya  kesukarelaan dan kerelaan peserta didik mengikuti/menjalani kegiatan yang di peruntukan baginya.

c. Asas Keterbukaan

Yaitu asas bimbingan Konseling yang menghendaki agar peserta didik/klien yang menjadi sasaran layanan bersikap terbuka dan tidak pura-pura baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya dan informasi-informasi yang berkenaan dengan permasalahan yang sedang di layani

d. Asas Kegiatan

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peaserta didik yang menjadi peserta layanan berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan layanan.

e. Asas kemandirian

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntuk peserta didik/klien untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan unik sehingga dapat mencapai tujuan bimbingan dan konseling

f. Asas kekinian

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang berorientasi pada tujuan bimbingan konseling yang membimbing peserta didik/klien dengan kondisi masa lalu dan masa depan sehingga dapat diproses secara keseluruhan.

g. Asas kedinamisan

asas bimbingan dan konseling yang menhendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan yang sama hendaknya selalu bergerak maju, tidak statis, dan terus berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan tuntutan perkembangan hidup

h. Asas Keterpaduan

Yaitu asas Bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan konseling baik yang di lakukan oleh guru pembimbing, maupuin pihak lain, saling menunjang harmonis dan terpadukan

i. Asas Kenormatifan

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendak iagar segenap layaaan bimbingan dan konseling dalam layanannya di dasarkan pada dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma-norma yang ada sehingga dapat di pertanggung jawabkan secera professional

j. Asas Keahlian

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendakiagar layanan bimbingan dan konseling diselengarakan berdasarkan kaidah-kaidah profesional, dalam artian bahwa peyelengara layaanan bimbingan dan konseling harus prtofisial

k. Asas Alih tangan kasus

  1. Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalih tangankan permasalahan itu kepada yang lebih ahli. Guru pembimbimng dapat menerima alih tangan kasus dari orng tua, guru-guru lain, atau ahli lain; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalih tangankan  kasus-kasus guru mata pelajaran/prktek dan ahli ahli lain  

l. Asas tutwuri handayani

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanana bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi, memberikan rasa aman, mengembangkan keteladanan dan motifasi yang seluas-luasnya pada perserta didik.

7. Jenis Layanan Konseling

  1. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
  1. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
  1. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
  1. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan  yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  1. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
  1. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
  1. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
  1. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
  1. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

8.   Kegiatan Pendukung

a.   Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.

b.   Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.

c.   Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.

d.   Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya.

e.   Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.

f.    Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.

9.   Format Kegiatan

a.   Individual, yaitu format kegiatan konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.

b.   Kelompok, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.

c.   Klasikal, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas.

d.   Lapangan, yaitu format kegiatan konseling yang melayani seorang atau  sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.

e.   Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan konseling yang melayani kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.

10.  Program Pelayanan

a. Jenis Program

1)   Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.

2)   Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.

3)   Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

4)   Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.

5)   Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu  minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) konseling.

b. Penyusunan Program

1) Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.

2)   Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

(Lampiran 1 dan Lampiran 2a, 2b, 2c, dan 2d)

B. ORGANISASI LAYANAN BIMBINGAN KONSELING

ORGANISASI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

MAN LAMONGAN

KETERANGAN

: GARIS KOMANDO

: GARIS KOORDINASI

Keterangan  :

  1. Unsur Kantor Departemen Agama Lamongan, adalah personil yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di Madrasah.
  2. Kepala Madrasah ( bersama Wakil Kepala Madrasah ), adalah penanggung jawab pendidikan di Madrasah secara keseluruhan termasuk pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.

3. Koordinator Bimbingan dan Konseling ( bersama para Guru Pembimbing ), adalah pelaksanan utama pelayanan bimbingan dan konseling di Madrasah.

  1. Guru Mata Pelajaran/ Praktek, adalah pelaksanan pengajaran dan atau latihan di Madrasah.
  2. Wali Kelas, adalah Guru yang ditugasi secara khusus mengelola satu kelas siswa tertentu.
  3. Peserta didik, adalah peserta didik yang menerima peleyanan pengajaran, latihan dan bimbingan  konseling di Madrasah.
  4. Tata Usaha, adalah pembantu Kepala Madrasah dalam penyelenggaraan administrasi dan Ketatausahaan di Madrasah.
  5. Pengawas Madrasah Bidang BK, adalah pejabat fungsional yang bertugas menyelenggarakan pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di Madrasah.
  6. Komite Madrasah, adalah Badan yang secara khusus dibentuk untuk menjadi mitra Madrasah dalam pembinaan dan pengembangan Madrasah.

C. MEKANISME POLA PENANGANAN SISWA BERMASALAH

MEKANISME POLA PENANGANAN SISWA BERMASALAH

MA NEGERI – LAMONGAN

POLA PENANGANAN SISWA BERMASALAH

Pembinaan siswa dilakukan oleh seluruh unsur pendidikan di Madrasah, orang tua, masyarakat dan pemerintah.

  1. Kerjasama dengan pihak di dalam Madrasah.
    1. Kepala Madrasah

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan secara menyeluruh khususnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di Madrasah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan serta bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
  2. Menyediakan sarana  prasarana, tenaga dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan daqn konseling yang efektif dan efesien.
  3. Melakukan pengawasan dan bimbingan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
  4. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di Madrasah dan Departemen Agama sebagai atasannya
  5. Menyediakan fasilitas, kesempatan dan dukungan dalam kegiatan kepegawasan yang dilakukan oleh Pengawas Bidang BK.
  6. Melakukan kerjasama dengan Komite Madrasah atau Orang Tua siswa dalam rangka penanganan siswa yang bermasalah.
  7. Melakukan kerjasama dengan Tenaga Ahli atau Instansi lain yang terkait dengan upaya penanganan  siswa yang bermasalah.
  8. Wakil Kepala Madrasah.

Sebagai Pembantu Kepala Madrasah dalam melaksanakan tugas – tugas Kepala Madrasah

  1. Koordinator Bimbingan dan Konseling.
    1. Mengkoordinator para Guru Pembimbing dalam memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga Madrasah ( siswa, Guru, dan personil Madrasah, serta Orang Tua dan Masyarakat )
    2. Menyusun program kegiatan BK ( Program satuan layanan, kegiatan pendukung )
    3. Melaksanakan program bimbingan dan konseling.
    4. Mengadministrasikan program kegiatan BK
    5. Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan BK.
    6. Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan program BK.
    7. Memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian BK.
    8. Mengusulkan kepada Kepala Madrasah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga,  sarana prasarana, alat dan perlengkapan pelayanan BK.
    9. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan BK kepada Kepala Madrasah.
    10. Berpatisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Madrasah Bidang BK.
    11. Melaksanakan kerjasama dengan personil Madrasah lainnya dalam upaya penanganan siswa yang bermasalah.
    12. Guru Pembimbing.
      1. Membantu Koordinator BK .
      2. Mengkoordinator para Guru Pembimbing dalam memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga Madrasah ( siswa, Guru, dan personil Madrasah, serta Orang Tua dan Masyarakat )
      3. Menyusun program kegiatan BK ( Program satuan layanan, kegiatan pendukung )
      4. Melaksanakan program bimbingan dan konseling.
      5. Mengadministrasikan program kegiatan BK
      6. Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan BK.
      7. Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan program BK.
      8. Memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian BK.
      9. Mengusulkan kepada Kepala Madrasah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga,  sarana prasarana, alat dan perlengkapan pelayanan BK.
      10. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan BK kepada Kepala Madrasah.
      11. Berpatisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Madrasah Bidang BK.
      12. Melaksanakan kerjasama dengan personil Madrasah lainnya dalam upaya penanganan siswa yang bermasalah.
      13. Wali Kelas.
        1. Membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas – tugasnya khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
        2. Membantu Guru Mata Pelajaran dan melaksanakan peranannya dalam pelayanan BK khususnya di kelas yang menjadi tenggung jawabnya.
        3. Membantu memberi kesempatan dan kemudahan bagi siswa khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti / menjalani layanan dan / atau kegiatan BK.
        4. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khususnya BK seperti : Mengundang Orang Tua, menindak lanjuti terhadap siswa yang melanggar Tata Tertib Madrasah, Kunjungan Ke rumah  Peserta didik, memprosentase kehadiran siswa, konferensi kasus.
        5. Melakukan koordinasi dan / atau alih tangan kasus dengan Guru Pembimbing sehingga Guru Pembimbing akan mempelajari sebab – sebab yang melatar belakangi sikap dan tindakan siswa tersebut.
        6. Guru Mata Pelajaran , Guru Praktek , Guru Piket, Dan Petugas Ketertiban Madrasah.
          1. Disamping melakukan tugas utamanya, diharapkan dapat membantu memasyarakatkan pelayanan BK kepada siswa.
          2. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa – siswa yang memerlukan layanan BK, serta pengumpulan data tentang siswa – siswa tersebut.
          3. Berpartisipasi aktif dan bekerjasama dengan wali kelas dalam  melakukan tindakan penanganan siswa secara langsung apabila dipandang kurang sesuai denga Tata Tertib Madrasah tanpa harus melakukan alih tangan  kepada Guru Pembimbing sebelum berupaya memberikan pembinaan terhadap siswa yang bermasalah di kelas maupun di luar kelas.

D. PROFESIONALISME BIMBINGAN KONSELING

KONSELOR YANG BERTUGAS DI SEKOLAH/MADRASAH DIWAJIBKAN MENGUASAI DAN MENYELENGGARAKAN HAL-HAL BERIKUT:

1. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional konseling

a. Konselor menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan teraputik.

1)     Pelayanan dasar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang paling elementer, yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan hubungan sosio-emosional. Orang tua dan orang-orang yang dekat (significant persons) memiliki peranan paling dominan dalam pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.

2)     Pelayanan pengembangan dimaksudkan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang cukup baik peserta didik akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya dengan  wajar, tanpa beban yang memberatkan, memperoleh penyaluran bagi pengembangan potensi yang dimiliki, serta menatap masa depan dengan cerah. Upaya pendidikan pada umumnya merupakan pelaksanaan pelayanan pengembangan bagi peserta didik. Di sekolah/madrasah, konselor, guru,  dan tenaga kependidikan  memiliki peran dominan dalam penyelenggaraan pengembangan terhadap peserta didik.

3)     Pelayanan teraputik dimaksudkan untuk menangani pemasalahan yang diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, kegiatan belajar, karir, serta kehidupan keberagamaan. Dalam upaya menangani permasalahan peserta didik, konselor memiliki peran dominan. Peran konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar dan pengembangan.

  1. Konselor menguasai spektrum pelayanan profesional konseling, meliputi:

1)     Wawasan keilmuan, keterampilan keahlian, kode etik, dan organisasi profesi konseling.

2)     Paradigma, visi dan misi pelayanan konseling

3)     Bidang pelayanan konseling

4)     Fungsi, prinsip, dan asas konseling

5)     Jenis layanan, kegiatan pendukung, dan format pelayanan konseling

6)     Operasionalisasi kegiatan  konseling terhadap berbagai sasaran pelayanan

2. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua

  1. Sejak awal bertugas di sekolah/madrasah, konselor merumuskan secara konkrit dan jelas tugas dan kewajiban profesionalnya dalam pelayanan konseling, meliputi:

1)     Struktur pelayanan konseling

2)     Program pelayanan konseling

3)     Pengelolaan program pelayanan konseling

4)     Evaluasi hasil dan proses pelayanan konseling

5)     Tugas dan kewajiban pokok konselor.

  1. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a dijelaskan kepada peserta didik, pimpinan, dan sejawat pendidik di sekolah/madrasah, dan orang tua secara profesional dan proporsional.

3. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.

  1. Unsur-unsur pokok dalam tugas pelayanan konseling di sekolah/madrasah:

1)     Jumlah peserta didik yang  diasuh seorang konselor 150 orang. Konselor wajib memberikan pelayanan konseling kepada seluruh peserta didik yang diasuhnya sesuai kebutuhan dan masalah masing-masing.

2)     Program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan kegiatan harian pelayanan konseling. Program-program ini disusun secara proporsional dan berkesinambungan antarkelas dan antar jenjang kelas di sekolah/madrasah.

3)     SATLAN, SATKUNG, dan LAPELPROG. Seluruh program kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dilaporkan secara tertulis dan didokumentasikan.

4)     Pelayanan terhadap masing-masing peserta didik yang diasuh sebanyak minimal 10 (sepuluh) kali kegiatan pelayanan konseling setiap semester. Konselor melayani seluruh peserta didik asuhannya; tanpa kecuali.

5)     Jumlah jam pembelajaran wajib pelayanan konseling seminggu ekuivalen dengan jam pembelajaran wajib guru. Jumlah jam pembelajaran wajib ini dihitung perbulan dengan menggunakan Format Perhitungan Jam Kegiatan Pelayanan Konseling di Sekolah/Madrasah.

  1. Tugas yang mengandung unsur-unsur pokok sebagaimana tersebut di atas merupakan “perjanjian kerja” yang wajib dilaksanakan oleh konselor dan secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.

4. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan pelayanan profesional konseling

  1. Hal-hal berikut ini perlu dicegah untuk tidak terjadi atau tidak dilakukan oleh konselor:

1)     Tercerderainya asas kerahasiaan, karena konselor secara langsung ataupun tidak langsung mengemukakan hal-hal berkenaan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain.

2)     Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok, dengan cara apapun, yang berkonotasi negatif terhadap peserta didik yang bersangkutan.

3)     Bertindak laksana “polisi sekolah” yang memata-matai ataupun mencari-cari kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazzia, pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang terjaring dalam kegiatan “kepolisian sekolah” yang dilakukan oleh pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling.

4)     Membuat ataupun menyetujui dibuatnya “surat perjanjian” dengan peserta didik yang berkonotasi atau berakhir pada sanksi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling agar  terhindar dari sanksi ataupun hukuman sebagaimana dinyatakan dalam “surat perjanjian”.

5)     Kondisi tempat ataupun ruang kerja konselor yang dapat mengganggu kesukarelaan, ketenangan, dan terjaminnnya kerahasiaan peserta didik yang datang kepada konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling.

  1. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a sejak awal disampaikan oleh konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, sejawat pendidik, dan pimpinan sekolah/madrasah untuk mendapatkan dukungan dan faslitas dalam mewujudkannya.

5. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan

  1. Pengembangan kemampuan profesional konselor dapat dilaksanakan melalui:

1)     Pengawasan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah, baik yang dilaksanakan secara interen oleh pimpinan sekolah/madrasah, maupun oleh Pengawas Sekolah Bidang Konseling.

2)     Diskusi profesional yang diikuti oleh para konselor sekolah/madrasah (dalam satu sekolah/madrasah ataupun antarsekolah/madrasah) untuk membahas kasus-kasus peserta didik.

3)     Partisipasi dalam kegiatan keorganisasian profesi konseling

4)     Pendidikan dalam-jabatan (seperti penataran) dan pendidikan lanjutan dalam bidang konseling.

5)     Kegiatan dalam rangka kredensialisasi untuk sertifikasi, akreditasi, dan atau lisensi dalam bidang konseling.

  1. Untuk terlaksananya hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a konselor membicarakannya dengan pimpinan sekolah/madrasah dan pihak-pihak lain
  2. berkenaan dengan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pelaporannya.

E. PERENCANAAN KEGIATAN

  1. Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan keteladanan.
  1. Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
  1. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Konseling
  1. Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:
  • Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.
  • Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal
  • Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
  1. Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:

1)   Kegiatan tatap  muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan,, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

2)  Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.

3)   Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.

  1. Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). (Lampiran 4).

5. Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah (Lampiran 5)

  1. Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

F.   PENILAIAN KEGIATAN

  1. Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:

a.   Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.

  1. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik.
  1. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap peserta didik.
  2. Penilaian proses kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG, untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.
  3. Hasil penilaian kegiatan pelayanan konseling dicantumkan dalam LAPELPROG  (Lampiran 4).
  1. Hasil kegiatan pelayanan konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. (Lampiran 6 dan Lampiran 7)

G.  PELAKSANA KEGIATAN

  1. Pelaksana kegiatan pelayanan konseling adalah konselor sekolah/ madrasah.
  1. Konselor pelaksana kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah wajib:

a.  Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional  konseling.

  1. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/ madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua.
  1. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.
  1. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan profesional konseling.
  1. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan.

(Rincian kewajiban konselor Lampiran 8).

  1. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

4. Pelaksana pelayanan konseling

  1. a.    Pelaksana pelayanan konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
  1. b.    Pada satu SD/MI/SDLB atau sejumlah SD/MI/SDLB dapat diangkat seorang konselor untuk menyelenggarakan pelayanan konseling.
  1. Pada satu SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dapat diangkat sejumlah konselor dengan rasio seorang konselor untuk 150 orang peserta didik.

H.  PENGAWASAN  KEGIATAN

  1. Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
  1. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara:

a.  interen, oleh kepala sekolah/madrasah.

  1. eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang konseling.
  1. Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di sekolah/madrasah.
  1. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan.
  1. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah.

BAB V

PENJABARAN PROGRAM OPERASIONAL

A. PERSIAPAN

Tahap persiapan ini meliputi ;

  1. Analisis hasil evaluasi program tahun ajaran 2007/2008
  2. Analisis kebutuhan Madrasah
  3. Analisis kebutuhan siswa
  4. Prioritas program Bimbingan dan konseling tahun pelajaran 2008/2009
  5. Penyusunan Program kegiatan Bimbingan dan konseling tahun pelajaran 2008/2009
  6. Konsultasi Program kepada Kepala Madrasah
  7. Penyediaan fasilitas, format-format dan alat-alat kelengkapan administrasi Bimbingan dan Konseling ( Satuan Pendukung Layanan BK )

B. PENGUMPULAN DAN ANALISIS KEBUTUHAN PROGRAM

  1. kebutuhan layanan pengembangan bimbingan konseling

1)    Seminar

  1. Seminar tentang pergaulan
  2. Seminar profesional layanan bimbingan konseling
  3. Sex Education
  4. MGBK/ABKIN

2)    Studi observasi

  1. kunjungan ke panti asuhan
  2. Dinas kesehatan
  3. BNK (Badan Narkotika Kabupaten)
  4. PTN/PTS

3)    Memperingati & Partisipasi

  1. Maulid Nabi & Hari Besar Islam lainnya
  2. Hari HIV AID
  3. Hari Narkoba
  4. Hari Music
  5. Dll
  6. Kebutuhan penunjang layanan bimbingan konseling
  • Ruang Bimbingan Konseling
  • Komputer
  • Intrumen bimbingan
  • Mading BK
  • Kotak Curhat BK
  • Modul layanan Bimbingan Konseling
  1. Inventori himpunan data
  2. Tes Intelegensi
  3. Tes Bakat Minat
  4. Tes Potensi Belajar
  5. Tes penjurusan
  6. Tes Study lanjut
  7. data siswa

1. Data Pribadi siswa, antara lain ;

  1. Jumlah siswa (berdasarkan jenis kelamin)
  2. Agama siswa
  3. IQ dan bakat minat
  4. Pekerjaan / pendidikan orang tua
  5. Asal Madrasah siswa
  6. Usia / tahun kelahiran
  7. Jarak rumah ke Madrasah
  8. Jumlah Saudara (kandung,tiri, angkat)
  9. Data-data pendukung lainnya.

2. Presensi siswa

  1. Presentasi tiap siswa
  2. Presentasi tiap kelas

3. Prestasi belajar siswa

  1. Nilai ulangan harian
  2. Nilai ulang semesteran
  3. Prestasi lainnya
  4. Jumlah lulusan yang melanjutkan

Kemudian data yang sudah terkumpul tersebut dianalisa, dikelompokkan dan digunakan sebagai data pendukung dalam memberikan bantuan bimbingan dan konseling kepada siswa sesuai dengan kebutuhan.

C. OBSERVASI INDIVIDU DAN KELOMPOK

  • Observasi / pengamatan secara langsung yang dilakukan oleh guru Pembimbing, atau guru Mata Pelajaran maupun yang dilakukan oleh Wali Kelas, atau pihak lain secara langsung.
  • Observasi secara tidak langsung dilakukan melalui daftar hadir siswa, angket isian siswa dan angket isian orang tua / wali murid, sosiometri, data prestasi siswa baik melalui nilai raport, nilai ulangan harian dll.

BAB  VII

PENUTUP

Alhamdulillah dapat kami selesaikan Program Kerja Tahunan Bimbingan dan Konseling MA Negeri Lamongan Tahun Pelajaran 2009 / 2010 sesuai dengan rencana.

Mudah-mudahan dalam pelaksanaan nanti kami selalu mendapatkan ridho dari Allah SWT, sehingga program yang telah kami buat dapat berjalan dengan baik dalam suasana kerja yang harmonis. Terselenggaranya semua layanan bimbingan dan konseling di Madrasah dengan baik perlu dukungan, pemahaman dan pengenalan akan pentingnya layanan bimbingan dan konseling oleh berbagai pihak yang terkait (Kepala Departemen Agama, Pengawas, Kepala Madrasah, dan seluruh warga Madrasah). Karena itu semua pihak bertanggung jawab atas pengembangan dan pelayanan bimbingan dan konseling di Madrasah.

Kerja sama antara guru pembimbing dengan seluruh personil Madrasah dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, sehingga tujuan Pendidikan Nasional dapat tercapai dan khususnya penanganan pelayanan bimbingan dan konseling di MA Negeri Lamongan dapat ditingkatkan keefektifan dan keefesienannya secara profesional.

Dengan demikian motto bimbingan dan konseling yaitu “I am ok, You are ok,” dapat terjaga kelekatannya pada sanubari para pendidik bukan hanya milik para guru pembimbing saja.


NO

PROGRAM

PELAKSANAAN

P. JAWAB

1.

Melengkapi kepengurusan MGBK           (koordinator wilayah kerja). Juni 2008 Pengurusan MGBK

2.

Pelantikan Pengurus MGBK Juli 2008

3.

Rapat kerja Pengurus MGBK Juli 2008 Pengurusan MGBK

4.

Sosialisasi MGBK Departemen Agama Jawa Timur ke setiap wilayah kerja Agustus – September 2008 Pengurusan MGBK

5.

Pendataan guru BK Departemen Agama Jawa Timur Agustus – Oktober 2008 Pengurusan MGBK

6.

Pembuatan konsep layanan Bimbingan konseling di lingkungan Departemen Agama Jatim. Oktober 2008

7.

Seminar / Diklat Bimbingan Konseling

-

Pengurusan MGBK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s